Oleh : Wahyu

Jakarta, SMborneo.com – Masyarakat selama ini mengenal budidaya lobster hanya bisa dilakukan dengan menggunakan air asin atau di laut. Padahal, upaya budidaya lobster di laut mempunyai risiko yang sangat tinggi. Selain bisa dimangsa predator seperti ular, ikan guntel dan sejenisnya, faktor cuaca yang bisa menyebabkan gelombang tinggi sangat merugikan pembudidaya lobster.

Ternyata Lobster ini bisa juga diternak di daratan, tanpa harus mengeluarkan modal tinggi. ”Awalnya saya memelihara lobster dengan modal Rp 100 juta di laut Benuangan Malimping Banten Selatan. Karena gelombang besar, semua lobster saya hanyut dihempas. Sekarang saya mencoba memeliharanya di daratan, dengan kolam-kolam tambak berukuran 20 s/d 30 meter persegi. Ternyata dalam waktu hanya satu setengah tahun, sudah bisa balik modal,” kata Handoko Yudha, peternak lobster air asin.

Saat ini pasokan lobster air tawar dirasakan berkurang dan belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Handoko sebagai pionir pembudidaya lobster air asin di daratan, berharap hal ini bisa menjadi pilihan pasar ekspor Indonesia.

Paling tidak ada empat negara tujuan ekspor yang bisa diandalkan untuk pasokan lobster asal Indonesia. Kebutuhan masih sangat tinggi, sehingga eksportir cenderung mengurangi pasokan dalam negeri. “Para eksportir berani bayar dengan harga tinggi. Karena mereka tahu, lobster asal Indonesia baik air asin maupun air tawar masih sangat digemari di China, Hongkong, Taiwan, dan Jepang,” tuturnya.

Sementara peternak lobster air asin di lautan, hanya dilakukan oleh mereka yang tinggal di wilayah pesisir atau di teluk. Misalkan suku Bajo di Sulawesi, yang sehari-harinya hidup ‘terapung’. Mereka hidup di atas air, sehingga kerambah-kerambah dipasang di bawah tempat tinggal mereka.

“Sedangkan kami yang tinggal di daratan, praktis tidak mungkin mengawasi ternak-ternak lobster. Sementara gangguan cuaca, gelombang besar, predator sewaktu-waktu terus mengancam. Predator bisa merusak jaring dan lobsternya dimangsa. Sehingga waktu di Benuangan, saya rugi hampir Rp 100 juta,” kata Handoko.

Lobster air asin bisa menjadi andalan komoditi ekspor produk perikanan Indonesia dalam dua - tiga tahun mendatang. Untuk pasar empat negara saja, ujar Handoko potensinya masih cukup besar. Sementara peluang ekspor juga terbuka untuk pasar lobster di Timur Tengah dan negara-negara Eropa.

Lobster hidup di satu alam, yaitu air, sehingga bukan produk haram. Berbeda dengan kepiting yang hidup di dua alam, sehingga masuk kategori haram bagi umat Islam. ”Tapi untuk lebih amannya, lobster yang diekspor ke negara-negara Timur Tengah bisa mendapat sertifikasi dari Islamic Lobster Center (ILC),” saran Handoko.

Sementara untuk negara-negara Eropa, faktor human safety yang menjadi prioritas. Jangan sampai pasokan lobster Indonesia tidak memenuhi ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah di beberapa negara di Eropa.

Saat ini ada lima eksportir di Bandara Soekarno Hatta yang memasok berbagai produk perikanan Indonesia. Mereka juga terkadang bermitra dengan para pembudidaya, pemasok dari berbagai daerah seperti Bengkulu, Ambon, Bali, Jawa Tengah dan lain sebagainya.

Bahkan ada juga importir dari China yang membuka kantor ekspor-impor di Bandara. Mereka melihat peluang bisnis dengan mengekspor berbagai produk perikanan termasuk lobster ke China, Taiwan, dan Hongkong. * (Wah/Syam)