Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com - Karet alam menguat dari level terendah dalam dua minggu setelah minyak mentah dunia di New York melonjak ke level tertinggi selama 15 bulan terakhir. Kondisi ini meningkatkan daya tarik komoditas sebagai alternatif investasi, terutama untuk produk-produk sintetis.

Karet alam untuk pengiriman Desember di Tokyo Commodity Exchange naik sebanyak 2,1 persen menjadi 239,5 per kilogram ($ 2.408 per metrik ton) dan diperdagangkan di 239,2, ini adalah penutupan terendah sejak 27 Juni kemarin.

Kondisi harga karet ini dipengaruhi oleh komentar Ketua Federal Reserve Ben Bernanke yang menyatakan kebijakan moneter yang akomodatif The Fed diperlukan untuk jangka pendek. Spekulasi Bank Sentral AS akan menghentikan pembelian obligasi senilai USD85 miliar per bulan September ternyata tidak terbukti.

Menurut Ibrahim, Analis divisi pengembangan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), bahwa komentar Bernake ini, menjadi sentimen positif terangkatnya harga karet, kondisi ini juga didorong adanya revisi pertumbuhan ekonomi AS oleh IMF pada hari Rabu pecan lalu (10/7/2013).

Terlebih, lanjut Ibrahim, Bank Sentral Jepang (BoJ) dan Bank Sentral Eropa (ECB) diproyeksikan juga akan mengikuti jejak The Fed yang mempertahankan pelonggaran dan suku bunga rendah.

Kondisi harga karet ini juga dipicu oleh naiknya harga minyak mentah. Minyak West Texas Intermediate menguat 11 persen dalam tiga minggu terakhir.

Dari data yang dihimpun dari Bloomberg, impor karet alam oleh China, konsumen terbesar di dunia, adalah 130.000 ton pada Juni, kantor bea cukai mengatakan kemarin. Yang dibandingkan dengan 177.400 ton pada Mei dan 163.317 ton tahun lalu.

Karet alam untuk pengiriman Januari di Shanghai Futures Exchange naik 1,8 persen menjadi 17.590 yuan ($ 2,867) per ton kemarin. Thai karet bebas on-board turun 1,2 persen menjadi 80,70 baht ($ 2,58) pada perdagangan kemarin. * (Syam)