Oleh : Syamhudi

 

Jakarta, Mediaprofesi.com - Sebagaimana industri lainnya, persaingan juga terjadi di industri kopi, komoditi kebanggaan Indonesia yang akhir-akhir ini menjadi salah satu primadona di pasar domestik dan internasional.

 

Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan industri kopi yang cenderung meningkat seperti terlihat dari semakin bertumbuhnya coffee shop, kedai kopi dan produsen kopi di Indonesia.

 

Untuk menjaga agar terjadi persaingan usaha yang sehat, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggelar Talks Show pada hari Rabu (28/8/2019) di GoWork FX Mall Sudirman, Jakarta bertajuk “SIAP BERSAING!”. Acara diselenggarakan untuk mengajak para stakeholder agar siap bersaing menghadapi persaingan di era global.

 

Ada tiga topik utama yang diangkat dalam diskusi publik ini yaitu kepatuhan terhadap hukum persaingan usaha, anak muda bicara kopi - persaingan brand lokal & internasional, dan industri aplikasi (apps) dalam kancah lokal & global.

 

Komisioner KPPU Kodrat Wibowo yang berbicara di sesi dua mepaparkan tujuan pembentukan UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

 

Menurut Kodrat UU ini diciptakan bertujuan menjaga kepentingan umum & meningkatkan efisiensi nasional untuk mensejahterakan rakyat, menjamin kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, menengah, dan kecil, mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat, dan efektivitas dan efisiensi kegiatan usaha.

 

Kodrat menjelaskan bahwa di bisnis kopi ini pasarnya unik, jadi bagi para pelaku usaha mulai dari yang pemula hingga yang sudah besar tidak perlu takut dalam melakukan usaha, dan bersaing. Karena disini kami melihat ada mata rantai yang berbeda dengan beras dan gula.

 

“Kalau di kopi, saya melihat adanya semacam pembinaan atau kerjasama mulai dari petani, pengepul hingga ke industri, dan kami belum melihat adanya yang monopoli atau mengatur harga dan mengatur daerah pasar. Bila ada yang begitu tentu akan kami berikan sanksi,” ujar Kodrat.

 

Direktur Santos Jaya Abadi, Adi Haryono yang hadir sebagai salah satu pembicara menyampaikan pandangannya dalam menyikapi meningkatnya permintaan dan apresiasi terhadap kopi.

 

“Pertumbuhan industri kopi yang cenderung meningkat seperti terlihat dari semakin bertumbuhnya coffee shop dan produsen kopi, tentu kita sambut dengan positif. Misalnya dengan memproduksi produk-produk baru yang berkualitas tinggi, rasanya enak, dan sesuai dengan permintaan pasar,” ujar Adi.

 

Adi juga menyoroti berbagai inovasi baru, termasuk dalam hal distribusi pemasaran juga dilakukan untuk menanggapi meningkatnya permintaan pasar akan produk yang baik dan berkualitas, sesuai dengan selera masyarakat.

 

Pangesti Bernardus, Head of Corporate Communication PT Kapal Api Global, pada kesempatan yang sama juga menjelaskan tentang inisiatif perusahaan untuk bekerjasama dengan petani yang dijalin melalui berbagai cara, untuk mendapatkan kualitas kopi yang lebih baik, sustainability produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

 

Untuk kopi jenis robusta, selain para pengguna besar yang multinasional, Kapal Api merupakan pengguna besar di pasar domestik. Harga kopi robusta di ndonesia sekarang ini lebih baik daripada harga kopi robusta di dunia.

 

“Sementara untuk kopi jenis Arabika, kami banyak membantu petani dalam hal proses post harvest. Misalnya kita lakukan pendampingan dalam proses penjemuran, roasting, dan proses-proses lainnya, sehingga kualitas kopi arabika yang diperoleh,” ujar Pangesti.

 

Menurut Pangesti, langkah lain yang tak kalah penting adalah mencarikan konsumen kopi yang sesuai, sehingga petani bisa mendapatkan manfaat yang terbaik.

 

Berbagai inisiatif juga telah dilakukan sebagai wujud dari spirit untuk bersaing secara sehat, seperti melalui program seperti Kapal Api Corner atau Program Sociopreneur Secangkir Semangat.

 

“Kedua program itu adalah program pemberdayaan ekonomi yang pernah kami lakukan. Kami juga memiliki progam untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kopi, termasuk kepada pelajar SMA dan SMK melalui inisiatif Jagad Kopi, yang minggu lalu berlangsung di Surabaya dan Blora,” pungkasnya.

 

Bahkan dia menyatakan bahwa berbagai brand kami juga memiliki program positif lain seperti video-video resep minuman yang dengan mudah dapat dicoba di rumah, sehingga konsumen bisa menikmati kopi produksi kami dengan berbagai cara.

 

“Kami yakin semangat positif seperti ini akan melahirkan atmosfir persaingan usaha yang sehat dan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia,” kata Pangesti menutup wawancara. * (Syam)