Oleh : Tama

 

Jakarta, MediaProfesi.com - Sebuah institusi musik yang mengusung konsep yang baru pertama kalinya di Indonesia turut hadir meramaikan perpetaan musik Indonesia.

 

Bernaung di bawah nama resmi PT. Aksana Raga Trikaya, Uprising, mulai terbentuk sejak tahun 2015. Pada awalnya, Uprising memiliki visi mengkurasi karya semua produser elektronik dance music di Indonesia. Kemudian di 2017 berkembang menjadi one stop solution untuk semua creative di bidang musik.

 

Konsep one stop solution yang diusung oleh Uprising ini merupakan satu- satunya konsep yang baru pertama kalinya tercetus di Indonesia, dan menjadi sebuah ide brilian karena menggabungkan music platform, recording company, production house serta agency dalam satu wadah.

 

Uprising menjadi wadah untuk para produser dan talent yang selama ini namanya tidak terdengar, namun memiliki talenta yang sangat baik, dan memiliki keinginan yang kuat untuk terus mengembangkan talenta yang mereka miliki agar dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

 

Pada dasarnya Uprising memiliki tujuan mengembangkan musik yang selama ini ada di Indonesia, serta iklim industri musik yang lebih sehat pada khususnya.

 

“Mereka memiliki talenta yang sangat bagus, bahkan banyak diantara mereka yang dijadikan sebagai ghost produser para pemusik luar, lalu kenapa anak bangsa ini ga kita kembangkan sendiri aja,” ujar Mahesa Utara, Direktur Utama Uprising sekaligus DJ & produser senior serta pelaku dance music di Indonesia.

 

Uprising memiliki banyak produser in house untuk menyelesaikan satu buah content lagu. “Kami yakin, mengerjakan dengan cara banyak kepala untuk satu content akan mampu mencapai keberhasilan sebuah lagu yang bagus, bahkan mendekati perfect,” tambah Mahesa.

 

Jangkauan Uprising sangatlah luas. Uprising memiliki rekan dan klien yang sangat lebar. “Klien – klien kami luas sekali, antara lain label – label company besar, production house film, para artis dan musisi, serta end music consumer yaitu masyarakat penikmat musik yang membeli musik. Kami menjual lagu…kami adalah production house yang membuat lagu,” jelas Anza Mauriza, salah satu founder Uprising, yang juga berprofesi sebagai produser dan DJ yang namanya sudah tidak asing lagi di dance scene.

 

Dalam menjalani dan mewujudkan goal memajukan musik Indonesia anak bangsa, institusi yang digawangi oleh anak – anak muda ini menghadapi kendala – kendala yang malang melintang di dunia musik.

 

Kendala pertama adalah business deal dengan para talent, yang tentu saja bertujuan agar para talent muda berbakat milik tanah air ini mendapatkan penghargaan lebih. Team Uprising mendiskusikan dan membedah kontrak – kontrak bisnis deal yang ternyata sudah tidak bisa diterapkan saat ini.

 

“Kami menerapkan fleksibilitas, dalam artian bahwa semua pihak harus menerima dengan rata. Team kami merumuskan detail kontrak yang baru start from zero. Detail pada kontrak haruslah adil dan fleksibel jangan sampai memberatkan artis atau talent,” jelas Mahesa.

 

Kendala berikutnya adalah justru datang dari para artis talent yang masih memiliki mindset bahwa membuat sebuah musik itu adalah sesuatu yang mahal.

 

“Masih banyak musisi masih berpikir seperti pelukis. Berbeda dengan design grafis. Mereka masih berpikir bahwa bikin musik itu mahal. Padahal cost untuk bikin musik itu zero, semua bisa dibuat pakai computer. Itu juga salah satu masalah kritis yang harus kami hadapi,” tegas Anza.

 

Permasalahan lainnya adalah timing atau momentum ketika musik akan dilaunch ke masyarakat luas. “Melemparkan musik yang sudah jadi harus tepat momentumnya, musiknya juga harus pas dengan trend musik apa yang lagi disuka sama konsumen. Be the right music with the right time,” tegas Anza.

 

Saat ini Uprising telah memiliki 10 talent produser dan DJ yang memiliki talenta yang sudah tidak diragukan lagi, sangat mampu menelurkan karya – karya berkualitas, dan tentunya akan terus semakin bertambah jumlahnya. * (Tam/Syam)