Oleh : Syamhudi

 

Bali, Mediaprofesi.com - Banyaknya usaha taksi online yang bermunculan belakangan ini menimbulkan sejumlah perdebatan di beberapa daerah di Indonesia, yang disinyalir berdampak merugikan dan dapat mematikan pelaku usaha bisnis taksi konvensional.

 

Beberapa wilayah di Pulau Bali pada umumnya dan Nusa Dua area pada khususnya, menghimbau untuk semua fasilitas sarana akomodasi pariwisata yang dikelola di area Nusa Dua untuk tidak menggunakan taksi berbasis online untuk menjemput tamu didalam area.

 

Mengacu pada himbauan oleh desa adat Bualu dalam menanggapi kejadian yang terjadi pada Kamis, 27 September 2018 di area lobby hotel, serta sebagai sikap konsisten untuk mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak.

 

Manajemen Tijili Benoa Hotel telah melakukan pertemuan dengan pihak-pihak yang terkait dengan kejadian tersebut untuk mencari solusi yang terbaik.

 

“Kami sangat menyayangkan sikap dari oknum yang menyebarkan video tanpa memberikan fakta yang sesungguhnya, sehingga terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat, ” ujar Patrick Le Provost, General Manager Tijili Benoa Hotel.

Patrick menyebut dampak jangka panjang dari penyebaran video tersebut bisa dipastikan akan merugikan semua pihak, terlebih pulau Bali sebagai daerah tujuan wisata.

 

Namun demikian,pihak manajemen Tijili Benoa Hotel juga menegaskan bahwa, sebagai salah satu akomodasi yang bertempat di Tanjung Benoa, pada dasarnya pihak hotel mengembalikan pemilihan akomodasi kembali kepada tamu yang terkait.

 

Dia berharap para pelaku jasa transportasi yang ada di Bali tetap memperhatikan kepuasan pelanggannya. Para pengguna jasa transportasi menurut saya sudah cerdas dalam menilai kebutuhannya dan mempunyai hak untuk memilih sarana yang akan digunakan.

 

“Sebaiknya yang seharusnya menjadi perhatian penuh adalah keselamatan penumpang,” tambah Patrick dalam keterangan tertulisnya kepada Mediaprofesi.com (29/9/2018).

 

Pada akhir pertemuan dengan pihak jasa trasportasi lokal kemarin, diputuskan agar para supir lokal tetap berada di luar area hotel, hal ini dilakukan sebagai penegasan sikap manajemen mengenai pihak penyedia jasa yang bukan merupakan bagian resmi dari Tijili Benoa Hotel.

 

“Tindakan ini dilakukan dengan harapan kejadian serupa tidak berulang kembali,” ungkap Patrick lebih lanjut.

 

Pihak Nara Hotels International, Francis Dehnhardt, sebagai Managing Director menambahkan, bahwa angkutan sewa khusus berbasis aplikasi online merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dalam moda transportasi yang menawarkan pelayanan yang lebih baik, jaminan keamanan perjalanan dengan harga yang relatif murah dan tepat waktu.

 

Fakta tersebut seharusnya menjadi rekomendasi industri jasa transportasi lokal untuk meningkatkan standar dan kinerjanya serta memenuhi kebutuhan kehandalan dan kenyamanan pelanggan.

 

“Sehingga dapat memberikan layanan berkualitas sesuai dengan mekanisme pasar yang pada akhirnya menguntungkan masyarakat, baik dari perspektif pengguna maupun penyedia barang dan jasa, hai ini juga sebagai bagian dari tanggung jawab mereka untuk turut meningkatkan industri pariwisata secara keseluruhan,” tutur Dehnhardt. * (Syam)