Oleh : Yudi

 

Jakarta, Mediaprofesi.com - Saat ini, transportasi umum di Jakarta tersedia melalui beberapa pilihan dari bus Transjakarta, kereta CommuterLine, Taksi, angkutan berbasis aplikasi, Gojek dan Angkutan Perkotaan (Angkot).

 

Dalam memberikan layanan publik yang nyaman dan aman dengan tujuan masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi untuk menggunakan transportasi publik.

 

Oleh karena itu pemerintah telah menginisiasi untuk meningkatkan sarana transportasi publik dengan menciptakan jaringan yang lebih baik dan efisien dari titik ke titik, serta membangun moda transportasi yang lebih canggih seperti MRT Jakarta, dan Light Rail Transit (LRT) system.

 

Upaya ini dilakukan pemerintah di tengah transportasi publik masih mendapatkan sejumlah persepsi negatif. Beberapa tanggapan yang tidak menguntungkan adalah masalah keamanan, keandalan, dan kenyamanan.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah inisiatif dan diskusi publik untuk menciptakan persepsi yang lebih baik tentang bagaimana pandangan masyarakat Jakarta tentang transportasi publik diadakan hari ini di @america di Jakarta.

 

Acara ini diselenggarakan dan diprakarsai oleh Paul Liong, seorang siswa berusia 17 tahun dari Jakarta Intercultural School yang mengajak orang-orang untuk mengambil satu langkah kecil dan mulai mempertimbangkan penggunaan transportasi publik.

 

Diskusi yang digagas oleh anak muda ini sontak mendapat sambutan positif dan sekaligus didukung oleh PT MRT Jakarta, GOJEK, dan Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ).


“Tujuan dari acara ini adalah untuk membangun kebiasaan baik menggunakan semua sarana transportasi publik yang tersedia, dan berbarengan dengan itu juga mendorong orang untuk mengurangi penggunaan transportasi pribadi,” ujar Paul Liong.

 

Dalam presentasinya, Paul Liong menyatakan, kita harus mampu lebih baik lagi menyampaikan keberhasilan perubahan yang akan terjadi pada transportasi umum di Jakarta. Jaringan bus Transjakarta dan CommuterLine yang luas adalah beberapa contoh terbaik yang dapat kita lihat dalam proses menciptakan sarana transportasi umum yang lebih terintegrasi.

 

“Layanan MRT Jakarta dan LRT yang akan segera dioperasikan juga berkontribusi menuju perbaikan ini. Sebagai warga Jakarta kita perlu mendorong lebih banyak orang untuk menggunakan alat transportasi ini,” jelasnya.


Beberapa penelitian dan kajian memperlihatkan bahwa di Jakarta, transportasi publik hanya menyumbang 23 persen dari perjalanan komuter.

 

Rata-rata seseorang menghabiskan 63 jam per tahun untuk lalu lintas, dan seorang pengemudi rata-rata menjalankan dan menghentikan kendaraannya 33.000 kali dalam setahun setahun.

 

Direktur PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, MRT Jakarta akan mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2019. Hal ini diharapkan akan membawa momentum baru untuk sistem transportasi di Jakarta dan di seluruh negeri.

 

“Kehadiran MRT juga akan menciptakan gaya hidup baru bagi masyarakat Jakarta. Dukungan dan keterlibatan publik adalah kunci penting bagi terwujudnya hal ini. Marilah kita bekerja sama, bahu membahu demi terciptanya sistem transportasi publik di Jakarta,” ujar William.

 

Salah satu pendiri FDTJ, Yusa Permana menyatakan, kunci untuk mengubah sebuah masyarakat yang berorientasi pada kendaraan pribadi agar dapat menerima transportasi publik adalah komitmen pemerintah.

 

“Komitmen untuk menyediakan, memelihara, dan mempertahankan layanan dan fasilitas transportasi publik yang baik dan memadai. Bersikap adaptif, fleksibel terhadap teknologi, memahami kebutuhan dan permintaan pengguna adalah suatu keharusan,” pungkas Yusa.

 

“Pemerintah juga harus dapat bekerja-sama dengan sektor swasta dan bertujuan untuk melayani kebutuhan publik,” paparnya.


Lebih jauh Paul Liong mengusulkan aplikasi terintegrasi untuk semua kebutuhan transportasi, menggabungkan semua sarana transportasi umum yang ada, yang berinteraksi dengan aplikasi berbagai perjalanan.

 

Sistem multi-modal yang baik juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, menggunakan Busway untuk pergi dari stasiun MRT ke tujuan akhir.

 

“Terakhir, sebuah teknologi harus dikembangkan oleh Pemerintah untuk menganalisa area masalah dan menyelesaikannya demi memberikan kepuasan yang lebih tinggu bagi para komuter,” tambah Paul. * (Yud/Syam)