Oleh : Pratama


Jakarta, Mediaprofesi.com Situasi pandemi COVID-19 yang mendunia ini menimbulkan rasa kepanikan dan cemas. Seluruh masyarakat di dunia dikurung dirumah masing-masing menjalankan karantina mandiri.

 

Orang terisolasi dari keluarga dan teman, serta sistem perawatan kesehatan pun sudah mencapai batasnya. Bagaimana kita bisa melewati masa yang penuh tantangan ini tanpa merasa stress dan tertekan?

 

Kecemasan akan terdampak dan terinfeksi diri, rasa terisolasi, kekhawatiran kita bagi orang-orang terkasih yang berisiko, serta penyebaran berita mengenai pandemi COVID-19, menguras tenaga, membebani pikiran, serta membuat kita kewalahan. Apa yang harus kita lakukan agar tidak kewalahan dari kepanikan?

 

Menyadari kondisi ini, PT Avrist Assurance (Avrist Assurance) menggalakkan sebuah gerakan kesehatan bertajuk Wellness Made Easy; sebuah manifestasi atas rekomendasi World Health Organization (WHO) mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan holistik melalui pikiran, tubuh, dan jiwa.

 

WHO mengatakan bahwa bahwa kondisi pandemi COVID-19 ini telah membuat perubahan besar pada rutinitas harian kita. Perubahan-perubahan ini bisa sangat sulit bagi mereka yang memiliki tantangan kesehatan mental.

 

Perasaan stress dan bingung merupakan sebuah dampak alami yang dapat terjadi di tengah masa krisis ini. Untungnya, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita.

 

Rasa cemas dan gelisah datang pada diri seseorang di saat ketidakpastian. Untuk mencegah dan mengatasi rasa tersebut, dr. Herman Irawan, Health Practitioner, PT Avrist Assurance menyarankan, Pertama, adalah mencegah rasa cemas dan gelisah dengan membekali diri dengan pengetahuan yang tepat mengenai COVID-19 dan menjaga kualitas berita yang diterima setiap hari.

 

Carilah informasi mengenai COVID-19 dari sumber berita terpercaya agar mengurangi rasa ketidakpastian. Kedua, adalah melatih otak untuk tetap tenang dan memandang dengan perspektif berbeda serta memiliki pikiran yang positif. Luangkan waktu untuk belajar hal baru agar dapat mengalihkan rasa kecemasan.” Jelas dr. Herman.

 

Sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa rasa cemas dan gelisah dapat juga menyebabkan masalah tidur yang serius, seperti insomnia. Mengalami serangan kecemasan dapat menyebabkan banyak orang merasa lelah.

 

Rasa untuk tidur pun sulit terjadi karena kecemasan dan rasa khawatir. Kurangnya kualitas tidur seseorang akhirnya akan berdampak pada kesehatan pikiran dan tubuhnya, yang akhirnya akan menekan sistem kekebalan tubuh seseorang. Penurunan daya tahan tubuh ini yang akhirnya menyebabkan manusia rentan terhadap penularan dan menyebabkan sakit.

 

Tidur yang cukup dengan kualitas yang baik bagi orang dewasa adalah 8 jam. Kualitas tidur yang baik akan terasa keesokan harinya saat seseorang bisa beraktivas dengan baik dan tidak merasa ngantuk di siang atau sore hari.

 

Perhatikan asupan yang masuk dalam tubuh kita, khususnya kadar nikotin, kafein dan alkohol yang dapat mengganggu kualitas tidur seseorang. Batasi juga tidur di waktu siang hari sehingga saat waktu tidur di malam hari kita merasa kantuk.

 

“Lalu, memaksa rasa kantuk atau tidur akan semakin menegangkan pikiran sehingga berakibat tidak bisa tidur, ada baiknya sebelum tidur, latihan menenangkan pikiran dengan membayangkan kegiatan favorit, misalnya melalui meditasi,” saran dr. Herman. * (Pra/Syam)