Oleh : Muhammad

Medan, MediaProfesi.com - Puluhan orang dari kalangan industri, penegak hukum, masyarakat madani berkumpul hingga tiga hari ke depan (5-7 September 2013) di Grand Aston City Hall Hotel & Residence, Medan. Mereka berupaya meraih status sebagai mediator terakreditasi Mahkamah Agung melalui Pelatihan Mediasi Eka Tjipta Foundation (ETF)-Badan Mediasi Indonesia (BaMI).

Head of Training and Education Centre Department ETF, Urip Widodo mengatakan, dinamika sosial dan perekonomian saat ini menjadikan potensi terjadinya sengketa sangat terbuka. Disini mediasi sebenarnya dapat menjadi alternatif mekanisme penuntasan sengketa yang efektif dan berkekuatan hukum.

“Hanya saja keberadaan mekanisme ini masih membutuhkan sosialisasi lebih kuat lagi. Hal ini pula yang mendorong kami menginisiasi pelatihan bagi para mediator,” kataUrip Widodo dalam siaran persnya kepada MediaProfesi.com (6/9/2013).

Turut hadir dalam acara pembukaan diantaranya, Ketua BaMI, Susanti Adi Nugroho, mantan Wakil Jaksa Agung, Darmono, Ketua Badan Mediasi Indonesia, Susanti Adi Nugroho, dan Perwakilan Badan Intelijen Negara, Heru Cahyono.

Mediasi adalah solusi alternatif yang sesuai dengan ketentuan pemerintah guna penuntasan sengketa yang melibatkan individu maupun kelompok, termasuk konflik hubungan industrial.

Dengan sifatnya yang cepat, ekonomis dan fleksibel, para pihak yang berperkara tidak hanya menghemat waktu dan biaya  dibandingkan melakukan penuntasan konflik melalui metode litigasi. Namun juga mampu mengupas setiap permasalahan secara mendalam dengan tetap mengedepankan hubungan baik antara pihak yang saling berperkara.

Secara terpisah Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, G. Sulistiyanto sangat berharap media dapat menjadi mitra dalam proses sosialisasi keberadaan mekanisme mediasi di masyarakat.

”Sehingga nantinya masyarakat tidak sekadar mengetahui akan adanya pelatihan mediator, namun juga bagaimana kelebihan mekanisme ini, cara memanfaatkannya berikut aspek hukumnya,” ujar G. Sulistiyanto. * (Muh/Syam)