Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com –Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menolak keras terhadap penangkapan dan penahanan terhadap teman sejawatnya Dr. Dewa Ayu Saiary Prawani, Sp.OG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara sejak tanggal 8 November 2013, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 365/K/Pid/2012.

Dalam surat itu dinyatakan bahwa Dr. Ayu telah terbukti bersalah melakukan perbuatan tindak pidana, karena kealpaannya dan menyebabkan matinya orang lain. Dokter tersebut dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 bulan.

“Dengan adanya kasus dapat menimbulkan keresahan, keraguan dan ketidak tenangan diantara kalangan dokter dalam menunaikan tugasnya, dikarenakan adanya kekhawatiran akan tuntutan dan kriminalisasi dokter,” kata Dr. Zaenal Abidin, MH. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dalam sambutan Diskusi Bulanan bertema “Menolak Kriminalisasi Dokter” di Sekretariat PB IDI, Jakarta hari ini, Senin (18/11/2013).

Dr. Zaenal yakin dokter sejawatnya di manado itu tidak bersalah, karena itu IDI berjuang keras agar mereka dibebaskan dari jeratan hukum pidana.

Oleh karena itu langkah yang akan ditempuh IDI ke depan, lanut Dr. Zaenal, akan melakukan Peninajauan Kembali. Untuk itu kita akan mengumpulkan fakta-fakta baru, dan untuk itu IDI menugaskan biro hukum dan tim pembela PB IDI untuk terjun langsung ke Manado guna bertemu dengan berbagai pihak termasuk pihak RS Kandou dan dokter yang sedang menjadi pesakitan dalam menggali informasi dan mengumpulkan fakta baru.

“Kemudian tim juga bertemu dengan dokter bersangkutan, kita harus punya fakta-fakta baru, bahwa memang betul dokter itu tidak salah. Namun kalau ada yang bersalah disitu, jangan dokter itu yang disalahkan, tetapi kalau tidak ada yang salah, berarti semuanya telah melakukan dengan baik,” tegas Dr. Zaenal.

Berkaitan dengan adanya pasien meninggal itu memang perjanjian kita dalam hukum kedokteran, bahwa dokter berjanji kepada pasiennya untuk melakukan upaya maksimal dan tidak menjanjikan hasil akhir.

Diakuinya, dokter dalam menjalankan profesinya, senantiasa mengedepankan kepentingan pasien dan berupaya memberikan yang terbaik dengan selalu menjunjung tinggi profesionalisme dan nilai-nilai etika.

Seringkali dokter dihadapkan pada keadaan ketidak pastian dan kegawat-daruratan kondisi pasien yang secara medis sangat kecil harapan untuk bisa tertolong. Dalam kondisi tersebut dokter secara etika dan secara professional tetap memiliki kewajiban untuk berupaya semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya dengan segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya untuk memberikan pertolongan terhadap pasien.

Namun yang terjadi, dokter cenderung disalahkan atau dikriminalisasi apabila dokter tersebut tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien atau pun tidak berhasil menyembuhkan pasien tanpa ada kecacatan sedikitpun.

Padahal kejadian tersebut bisa disebabkan karena factor kefatalan penyakitnya atau karena factor resiko dan suatu tindakan medis yang tidak bisa dihindari, karena memang harus dan tidak ada pilihan lain tindakan medis tersebut dilakukan untuk menolong dan menyelamatkan jiwa pasien. * (Syam)