Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com - Tak selalu kemajuan dan peningkatan dalam bidang makroekonomi itu membawa kesejahteraan terhadap seluruh lapisan masyarakat. Namun, ternyata dengan pertumbuhan makroekonomi yang begitu cepat berdampak buruk terhadap masalah kesehatan kelompok miskin.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr. Zaenal Abidin, MH dalam Orasi dan Dialog Kebangsaan bertema “Refleksi Semangat Kebangkitan Nasional DR. Soetomo : Kemerataan dan Berkeadilan Pelayanan Kesehatan”, di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta hari ini, Senin (20/5/2013).

Turut hadir dalam acara Orasi dan Dialog Kebangsaan ini, diantaranya Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dr. Ali Gufron Mukti, MSc. PhD, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, kalangan profesi dokter, mahasiswa kedokteran, pemerhati kesehatan dan tokoh masyarakat.

Acara Orasi dan Dialog nasional ini digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia yang ke-105 tahun (20 Mei 1908 – 20 Mei 2013) dan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Sedangkan pembicara dalam kegiatan ini adalah Ketua Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, SH, MH dan Kepala Badan Pengembangan SDM Kehutanan, Kementerian Kehutanan, DR. Tahrir Fathoni, MSc. Dan bertindak selaku moderator Prof. Dr. Raazak Thaha, MSc. Sp.GK.

Dr, Zaenal menyampaikan dalam Orasinya, bahwa kelompok miskin pada saat ini menghadapi beban ganda kesehatan dalam bentuk “triple burden”. Masalah pertama, adalah penyakit menular lama belum teratasi dengan tuntas, disusul penyakit menular yang pernah selesai di masa lalu seperti malaria dan tb. Namun kini timbul kembali.

“Masalah kedua yang dihadapi kelompok miskin ini adalah penyakit menular baru seperti HIV/AIDS,” tegas Dr. Zaenal.

Sedangkan masalah ketiga, lanjutnya, yaituancaman penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, penyakit jantung pembuluh darah, kencing manis, ginjal dan kanker.

Dijelaskan Dr. Zaenal dalam Orasinya, PTM beberapa dekade yang lalu mendominasi kelompok ekonomi menengah ke atas. Namun kini merasuk dengan cepat ke dalam kelompok miskin.

Tentunya, hal ini didorong berkah kemajuan dan pertumbuhan makro ekonomi dengan cepat mengubah perilaku hidup kelompok miskin. Mereka makin mudah memperoleh makanan-makanan enak yang kaya gula, kaya lemak, dan kaya garam.

Disamping itu, mereka juga mulai menikmati kemajuan teknologi transportasi, sehingga nyaris tidak lagi beraktivitas fisik yang memadai. Mereka menghabiskan nyaris sebagian besar waktu tanpa bergerak di depan televise sambil ngemiljunk food” yang berisiko tinggi.

“Jadilah kelompok miskin adalah kelompok yang paling rawan dan menjadi kelompok utama yang menderita akibat masalah ganda kesehatan,” paparnya. * (Syam)