Oleh : Rizal

Martapura, MediaProfesi.com Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjar, Putra menandaskan, pihaknya sudah lama mengetahui adanya produk-produk tiruan dari luar daerah yang meniru kain sasirangan.

``Bahkan, produk tiruan itu sudah ada sekitar tahun 90-an, dimana produk tersebut berasal dari luar daerah seperti Pekalongan, tandasnya pada wartawan, kemarin.

Menyikapi terancamnya kerajinan asli Kalimantan Selatan (Kalsel) ini, lanjutnya, pihaknya sudah mengambil langkah guna menyelamatkan pengrajin dari serbuan produk tiruan, kendati mungkin agak terlambat, namun langkah nyata sudah dilakukan, yakni dengan mematenkan hak desain kain sasirangan asli Kalsel sebanyak 17 motif desain.

Sebelumnya, sambung Putra, pihaknya belum mengetahui hasil dari pengajuan hak desain yang sudah diajukan sekitar satu tahun lalu, karena pengajuan hak desain itu dimotori pihak provinsi.

``Kemudian kami menghubungi pihak provinsi untuk memastikan sudah atau belum keluarnya hak desain yang diharap bisa melindungi para pengrajin kain sasirangan Kalsel dari produk tiruan tersebut, katanya.

Hasil koordinasi dengan pihak provinsi, sambungnya, dinyatakan hak desain sudah keluar, yakni sebanyak 17 motif, dengan hak desain ini bisa dilakukan klaim terhadap pihak-pihak yang meniru desain pengrajin kain sasirangan.

``Klaim sendiri bukan hanya dilakukan terhadap pengrajin atau produsen yang meniru kain sasirangan, namun juga bisa diarahkan kepada pemerintah asal produk tiruan tersebut, adapun 17 motif salah satunya motif ikan khas Kalsel, mutlak milik pengrajin setempat, tandasnya.

Pada bagian lain Putra menambahkan, pengrajin kain sasirangan yang ada di Kabupaten Banjar mencapai ratusan orang, daerah Sungai Tabuk saja ada 25 kelompok pengrajin dengan rata-rata satu kelompok sebanyak 3 orang.

``Kami sendiri berharap para pengrajin kain khas Kalsel ini dapat lebih mengembangkan kerajinannya, terutama menyangkut mutunya, ujarnya. * (Riz/wan/Kalimantan Post/Syam)