BANJARMASIN, SMBorneo.com - Perusahaan pengolahan karet PT First International Gloves sedang membangun industri sarung tangan terbesar di dunia di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalsel, Ratna Fatmawati, di Banjarmasin, Senin (18/1/10), mengatakan, industri yang dibangun di lahan seluas 40 hektar tersebut kini sedang dalam proses pembangunan gedung dan infrastruktur pendukung lainnya.

``Sesuai dengan surat persetujuan penanaman modal, proyek pembangunan itu akan selesai selama 36 bulan setelah mendapatkan surat persetujuan penanaman modal pada 2006, katanya.

Rencananya, kata dia, bila industri sarung tangan tersebut telah beroperasi akan mampu menyedot tenaga kerja lokal sebanyak 6.035 orang.

Namun, bila nantinya diperlukan penggunaan tenaga kerja asing, kata dia, perusahaan wajib menyampaikan rencana penggunaan tenaga kerja warga negara asing kepada BKPM.

Sedangkan nilai investai yang rencananya bakal ditanam pada industri tersebut, kata dia, sebesar Rp701 miliar.

Menurut Ratna, dalam mendukung pembangunan industri tersebut, Pemprov Kalsel memberikan insentif berupa pembebasan dari pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap barang modal berupa mesin dan peralatan, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas.
Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, mengatakan, berdirinya industri sarung tangan terbesar di dunia di Tala tersebut, merupakan salah satu solusi untuk menampung hasil perkebunan karet Kalsel, katanya.

Selain itu, kata dia, dengan berdirinya industri sarung tangan terbesar di dunia itu juga menjadi solusi untuk mengurangi jumlah pengangguran di Kalsel.

Sementara itu, Bupati Tala, Adriansyah, berharap, dengan terbangunnya industri sarung tangan tersebut, akan mampu memberikan nilai tambah bagi warga Kalsel.

``Dengan produk jadi, maka harganya semakin mahal dan mampu membuka peluang kerja bagi warga Kalsel, katanya.

Kasubdin Perdagangan Luar Negeri Disperindag Kalsel, Djumiah, mengatakan, produk karet alam selama 2009 turun dibanding pada 2008.

Pada 2008 volume ekspor karet mencapai 60 ribu ton lebih dan 2009 menjadi hanya 32 ribu ton atau turun hingga 46,83 persen. Begitu juga, dengan nilai ekspornya, pada 2008 mencapai 156 juta dolar AS, dan 2009 menjadi hanya 48,5 juta dolar AS atau turun 69 persen lebih.

Hal itu terjadi, kata dia, karena permintaan dari beberapa negara konsumen turun drastis sejak adanya krisis keuangan global pada pertengahan 2008.

``Karet kita banyak di eskpor ke negara industri ban, seperti Cina, yang kini perusahaannya banyak tutup karena tertimpa krisis, katanya.

Mengatasi hal tersebut, kata dia, pihaknya kini tengah mendorong masuknya industri-industri hilir untuk mendongkrak kembali produksi karet. (ant/K-7 Kalimantan Post)