Oleh : Pratama

Jakarta, MediaProfesi.com Suatu insiden menodai pelaksanaan sholat Idul Fitri 1 Syawal Fitri 1436H di Tolikara- Papua, dimana tatkala umat muslim sedang melaksanakan sholat Id di halaman Koramil 1702 / JWY. Beberapa orang tiba-tiba datang berteriak.

Tak ayal jemaah pun bubar dan menyelamatkan diri ke markas Koramil. Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar masjid serta membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.


Terkait dengan insiden pembakaran sebuah masjid di Tolikara, Papua, Ulil Abshar Abdalla, Juru Bicara

Partai Demokrat dalam siaran persnya menyampaikan statemen sebagai berikut:

1. Tindakan vandalisme dan kekerasan atas rumah ibadah apapun tak bisa dibenarkan dan harus ditolak sekeras-kerasnya.

2. Oleh karena itu, aparat negara melalui aparat penegak hukumnya harus bertindak tegas atas pelaku pembakaran ini. Penegak hukum harus segera mengungkap apa yang sebetulnya terjadi di balik peristiwa ini sehingga memupus segala bentuk spekulasi yang bisa menjadi bahan provokasi di tengah-tengah masyarakat.

3. Menyesalkan aparat keamanan yang kurang sigap mengantisipasi kejadian ini padahal terindikasi adanya selebaran yang bernada provokasi sejak kira-kira seminggu sebelum peristiwa ini terjadi.

4. Isu kekerasan atas rumah ibadah jelas sangat sensitif. Karena itu, kami menghimbau masyarakat untuk tidak termakan oleh spekulasi yang bernada provokatif yang biasanya menyebar lewat media sosial.

5. Kami tahu hubungan antar umat beragama di Papua selama ini sangat baik dan damai. Suasana ini harus tetap dijaga, jangan sampai dirusak oleh tindakan sekelompok orang yang belum tentu mewakili sikap keberagamaan yang dominan di komunitas agama bersangkutan.

6. Beribadah merupakan hak bagi setiap warga negara yang dilindungi oleh konstitusi. Perusakan atas rumah ibadah berlawanan dengan dasar konstitusional ini. Prinsip ini harus dijadikan dasar dalam melihat kehidupan keberagamaan di negeri kita. * (Pra/Syam)