Selama ini banyak aspirasi daerah yang terabaikan. Untuk itu HIPPI yang berada di Pusat hendaknya bisa mengayomi dan memfasilitasi kemauan dari daerah untuk dapat berkembang dan maju bersama-sama.

Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com – Calon Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), ET Hadi Saputra mempunyai visi akan mendengarkan aspirasi dari daerah yang selama ini dirasakan kurang diperhatikan oleh pengurus pusat.

“Jadi, sebagai organisasi himpunan pengusaha, anggotanya terdiri dari teman-teman di daerah. Kita justru sebagai pengurus pusat harus bisa menyalurkan, memfasilitasi, dan membantu kemauan teman-teman daerah tersebut,” ungkap ET Hadi Saputra, yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Pemberdayaan Daerah DPP HIPPI.

Kandidat Ketua Umum yang termuda dari enam orang calon ini berjanji, dalam kepengurusan yang dipimpinnya bila ia terpilih nanti, akan membuka pintu selebar-lebar untuk yang di daerah masuk dalam kepengurusannya sesuai dengan kemampuan dan profesi yang digelutinya.

Sehingga mereka yang bergabung diharapkan benar-benar berjuang untuk kepentingan organisasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dalam menghadapi persaingan pasar bebas. Karena HIPPI saat ini punya tantangan besar dalam kancah pasar bebas, baik di tingkat regional ASEAN, Asia, maupun internasional.

Sebagai konsekuensi dibukanya pasar bebas antara China-ASEAN (CAFTA – China Asean Free Trade Agreement) dan Indonesia turut menandatanganinya, maka sudah mulai banyak masuk barang berasal dari China, ini mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita hadapi dan rasakan.

Pasar bebas ini bukanlah suatu ancaman, namun kita harus jadikan sebagai kesempatan dan peluang yang paling besar. Ia menggambarkan peluang yang bisa dilakukan seperti saya suka mangga dari China, tapi saya juga tetap suka mangga golek dari jawa. Sehingga saya tetap akan membeli mangga yang dari sini. Bagi saya pasar bebas itu adalah peluang kita juga untuk bisa menjual mangga golek ke luar negeri.

Lebih jauh ia mencontohkan, dimana kita boleh saja makan mangga dari negara tirai bambu, kalau kita suka. Tapi kenapa kita tidak bikin supaya orang China juga suka makan mangga yang dari Indonesia. Itu sebenarnya tantangan yang harus kita hadapi, saya tidak suka dengan proteksi.

“Karena proteksi itu sebenarnya tidak mendidik. Sebab bila kita punya produk, bagaimana supaya negara lain bisa mengimpor produk dari Indonesia. Kita tonjolkan kelebihannya,” ujarnya.

Saya yakin, misalnya batik, semua orang pasti senang dengan batik. Apalagi yang daerahnya tropis, atau daerah musim panas, mereka perlu pakaian yang adem. Kenapa kita tiak promosikan batik untuk musim  semi di Eropa maupun Amerika.

Jadi sebenarnya kembali ke nyali diri kita, dimana HIPPI itu dipimpin oleh orang-orang yang punya nyali. Punya nyali menawarkan batik maupun produk lainnya ke luar negeri, seperti menawarkan mangga golek ke China,  punya nyali menawarkan mobil Kijang buatan Indonesia ke Eropa, itu yang penting.

Langkah-langkah untuk kita bisa melakukan persaingan, tidak ada langkah yang paling hebat selain memulai. Dari kecil sekalipun kita langsung mulai, itu yang penting. Jadi marilah kita mulai. * (Syam)