Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com – Kata pepatah, bercita-citalah setinggi bintang di langit, maka tidak aneh kalau kita mendengar anak kecil, ketika ditanya kalau sudah besar mau jadi apa? Jawabnya tentu beragam, ada yang mau jadi guru, pilot, insinyur, dokter, presiden, polisi, tentara dan beragam ungkapan yang dilontarkan oleh anak-anak.

Bahkan, orang dewasa pun, masih saja tidak dapat melepaskan dengan cita-citanya, lihat saja salah satunya apa yang diinginkan oleh Lelya Tersi Lestari putri dari dokter internist di salah satu rumah sakit pemerintah yang lulus S2 jurusan Software Engineering IT di University of Essex, Inggeris pada 2001, bercita-cita ingin mewujudkan impian kebangkitan IT Indonesia, maksudnya akan bermunculan sumber daya manusia (SDM) putera-puteri Indonesia yang handal di bidang IT.

Impian itu muncul setelah wanita yang akrab dipanggil dengan nama Lya tersebut merasa betapa sulitnya menembus pasar IT di Eropa dan Amerika. Bahkan, katanya mereka menganggap orang Asia itu kecil alias kurang kecakapannya di bidang IT, terlebih lagi bagi bangsa Indonesia.

Padahal, mereka lupa kalau kita itu belajar dan lulus IT di perguruan tinggi di negara mereka, jadi apa yang harus diragukan dengan SDM bangsa kita. Bahkan dia sendiri begitu selesai dan di wisuda pada 2001 langsung bekerja selama dua tahun hingga 2003 di salah satu pertokoan di Inggeris, dengan posisi jabatan ganda yakni Shopping Assistant dan Teknisi IT.

Kemudian 2003 ia pun berhenti bekerja dan pulang ke Indonesia. Terus bekerja menjadi Freelancer selama 2 tahun sebagai programmer untuk mengerjakan program inventory. “ Ya, pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan database,” kata Lya lulusan S1 jurusan Teknik Elektro, Universitas Trisakti.

Selanjutnya pada 20 -05-2005, jam 20.05, dia melakukan soft launching perusahaan ICT dan Multimedia Consultant, dibawah bendera Damarwangi. Tanggal dan jam itu sengaja diambil, bertepatan dengan simbol hari kebangkitan nasional. Dengan demikian, saya punya visi ke depan juga merupakan kebangkitan IT Indonesia, yaitu IT yang berbau Indonesia itu bisa dikerjakan oleh putera-puteri Indonesia.

Dari situ usaha kami mulai fokus, walau masih sebatas mengerjakan database, tapi sudah mengarah ke klinik atau ke arah hospital management, dan medical report. “Kebenaran ayah ku itu dokter internist, jadi saya dari kecil itu sudah mengertilah tentang rumah sakit. Apalagi saya lahir dan besar di komplek perumahan rumah sakit,” ujarnya, yang kini masuk di jajaran organisasi nasional Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), dengan jabatan Wakil Ketua Litbang DPD IWAPI Jakarta.

Impian tersebut benar-benar ingin diwujudkannya. Untuk itulah dia mengambil tesis S2 di University of Essex, Inggeris, dia membuat sebuah aplikasi dengan riset melakukan WAP (wireless application protocol) untuk medical record.

Kalau sofwarenya sendiri saya buat dalam Java, demikian juga untuk medical record-nya, walaupun diakuinya pada waktu itu belum se-integrated seperti sekarang. “Terus saya juga riset bidang multimedia, karena saya ada background S1 di jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti, dari situ kita mulai riset,” terangnya.

Pada 2007, ia mulai mengembangkan alat inovasi yang diberinya nama ‘Hiqumms’ (high quality multimedia system). Jadi alat itu bisa di pakai di ruang seminar, konferensi, airport, RS, Mal, dan lain-lain. Jadi untuk pengaturan LCD projector yang penempatannya terpisah, jadi kita sudah terintegrated dengan sistemnya.

Diakuinya, yang sudah memakai buah karyanya diantaranya RS Pelni yang di tempatkan pada auditorium untuk prototype 1. “Sekarang saya sedang melakukan riset untuk prototype 3. Nah, yang prototype 3 ini saya ajukan ke Telkom,” ujarnya.

Hasil karyanya untuk prototype 1 dan 2 itu sudah bisa dimungkinkan sistemnya terintegrated antar ruang atau gedung, namun hanya memang ada jarak-jarak tertentu. Sedangkan untuk prototype 3 yang sedang dalam penelitian, ini pengembangannya lebih ke arah pemakaian dengan menggunakan satelit.

dan untuk security data sejauh ini tidak ada masalah untuk prototype 3 ini, karena kita sudah bisa pakai network, dan internet.

Kontribusi kita untuk kebangkitan IT itu, kini ada dua riset yang saya jalankan, yaitu untuk konten RS dan klinik itu adalah suatu system software yang integrated realtime untuk management RS mulai dari administration, medical record, billing, termasuk invoice dan segala macam itu sudah integrated, bahkan ke apotik. Jadi kita disini membenahi sistem untuk public health services dan sistem monitoring.

Adapun yang menginspirasi, karena saya dari kecil lahir dan besar di lingkungan RS,  banyak melihat waktu yang terbuang percuma, yang seharusnya pasien itu bisa lebih cepat terlayani, bayangkan saja orang sudah sakit, di suruh menunggu, tunggu resep, tunggu dokter, nunggu periksa darah, balik lagi. “Nah, itu banyak link-link yang kita hilangkan, makanya kita buat suatu algoritma one stop services, jadi waktu data di input sudah ter-update semua. Bahkan obat resep yang diberikan oleh dokter itu sudah leih dulu sampai ke apotik, sebelum dia datang, obat itu sudah disiapkan. Jadi otomatis lebih cepat pelayanan health services yang diberikan oleh sebuah RS dan apotik,” pungkas Lya.

Dengan program ini dari sisi medical record juga lebih rapi, terutama kalau ada kasus mal praktek atau apa, bisa di retrieve semua datanya dan bisa dipertanggung jawabkan siapa yang sign gitu, siapa yang input data itu, sehingga seperti kasus yang terjadi akhir-akhir ini bisa di minimalisir.

Kalau yang saya buat ini sudah disesuaikan dengan standar yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Indonesia. Selain itu juga disesuaikan dari dokter sendiri. karena setiap dokter punya style pemeriksaan itu berbeda. Dan bahkan disetiap negara itu punya style masing-masing.

Penghargaan yang pernah didapat, pada waktu dia ikut lomba Indigo Fellowship 2010 (Indonesian Digital Community) itu dia mendapat award dalam 2 kategori sekaligus, yaitu untuk small medium enterprise, iSO Commit (intelligent solution comprehensive medical IT). * (Syam)