Oleh : Ayi Putri Tjakrawedana *)

Jakarta, MediaProfesi.com - Tak banyak mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan maupun dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan bahwa di negara 'taifun' yaitu Taiwan ada terselip sosok sederhana Dwi Setyawaningsih sebagai pemenang lomba menulis kisah para imigran di Taiwan.


Lomba bertajuk Taiwan Literature Award For Immigrant Workers sudah dua kali diadakan. Sejak Mei 2015 hingga akhir Agustus 2015 kemarin sebagai puncak acara penyerahan penghargaan.


Saya yang merupakan salah satu juri tamu mewakili Indonesia sangat bangga dan terharu atas kemenangan Dwi. Kisah yang ditulisnya mampu mengalahkan ratusan peserta dari negara Asia lainnya yang mengikuti ajang ini.


"Sejak bangku SMP dulu saya suka menulis. Tapi lebih menekuninya saat ini ketika bekerja di Taiwan, semangat menulis itu tumbuh kembali," ungkap Dwi ditanya saat detik-detik penerimaan penghargaan tersebut. Dia sejak SMP sudah aktif menulis untuk najalah dinding di sekolahnya.

"Menulis bagi saya adalah bentuk ekspresi jiwa. Senang, sedih, menyuarakan tentang ketidakadilan dan apapun itu bisa kita lakukan dengan menulis," tambahnya.


"Saya ingin menulis tetap menjadi jiwa saya dan ketika saya sudah tiada Insya Allah tulisan saya masih tetap bergema. Semoga kelak Tuhan mengijinkan saya menjadi bagian dari para penulis Indonesia," begitu ucap Dwi secara lugu tentang tekadnya dalam bidang tulis menulis.


Menariknya, ada satu cita-cita Dwi setelah keberhasilannya ini untuk berbuat mulia. "Saya belum punya target untuk kedepannya, karena ilmu literasi saya yang masih sangat dangkal. Saya akan terus belajar, terus membaca dan terus menulis. Hingga suatu saat nanti saya bisa mewujudkan mimpi saya ingin mempunyai buku karya sendiri. Untuk saat ini setelah saya pulang ke Indonesia awal tahun depan saya ingin mewujudkan salah satu mimpi membuka perpustakaan kecil yang akan saya dedikasikan untuk anak2 di daerah saya. Menanamkan minat baca kepada mereka".


Dwi adalah salah satu dari ribuan Tenaga Kerja Indonesia yang punya mimpi untuk hidup lebih baik dari segi materiil maupun moril atau mental. "Pendidikan terakhir saya Diploma Manajemen Informatika. Itupun tidak sampai selesai sudah drop out karena terbentur biaya," ucap Dwi tanpa rasa menyesali jalan hidup yang sudah ditempuhnya.


Ayahnya sudah meninggal sejak ia kelas 2 Sekolah Dasar. Ibunya yang seorang single parents hingga saat ini merupakjan mantan TKI juga. "Saya 3 bersaudara dan saya anak ke 2," ucap perempuan asal Malang Jawa Timur tersebut.


"Saya memutuskan bekerja di Taiwan karena faktor mencari kerja di Indonesia yang semakin sulit apalagi setelah saya terkena PHK. Dan sebagai seorang single parents saya ingin memberikan pendidikan yang bagus buat anak saya nantinya juga untuk menabung masa depan," jelas Dwi yang sungguh menggambarkan betapa kerasnya perjuangan hidup sebagai seorang ibu dan single parents.

"Saya ingin menjadi kebanggaan bagi mereka dan saya ingin membuktikan bahwa TKI juga bisa menghasilkan karya, bisa menjadi kebanggaan, tidak hanya berita miring dan menyusahkan pemerintah Indonesia saja," tandasnya.


Dwi pantas dan patut berbangga hati. Demikian pula sang Ibu. Anak perempuannya yang mewarisi profesi sebagai TKI memiliki kemampuan lebih, dan itu berarti sang ibu telah berhasil mendidik anaknya untuk bisa merubah nasib, apapun.


Naskah yang Dwi kirim ke lomba hanya ditulisnya dalam waktu satu bulan. " Ada proses edit dan riset juga. Karena pekerjaan yang menyita waktu dan tidak adanya waktu beristirahat, saya hanya menulis setiap malam menjelang tidur antara jam 11 hingga jam 12 malam. Dan alhamdulillah semua perjuangan saya berbuah manis," senyum Dwi mengembang.


Lantas apa kabar pemerintah Indonesia dalam menyikapi dan memberi apresiasi terhadap para TKI yang berprestasi ? Mereka manusia yang tak memerlukan atribut kalimat Pahlawan Devisa semata. Namun mereka berhak atas kehidupan pendidikan dan martabat yang lebih baik sebagaimana tekad Dwi dalam memajukan dunia tulis menulis kelak ketika ia kembali ke tanah air.

Dwi Setyawaningsih, dia tak sekedar Pahlawan Devisa, dia Pahlawan bagi keluarganya, negara dan dunia tulis menulis yang mengharumkan nama bangsa di kala carut marut potret TKI di mancanegara. Selamat Dwi !

*) Ayi Putri Tjakrawedana (Penulis Buku dan Pendiri Women Script and Co)