Oleh : Ayi Putri Tjakrawedana *)


Jakarta, MediaProfesi.com - Terlahir dari 4 (empat) bersaudara, dimana sejak kecil memang telah bermimpi kelak menjadi seorang dokter.

 

Maka begitu menamatkan sekolah di SMAN 2 Jakarta iapun segera memutuskan untuk kuliah di Jurusan Biologi di kota San Diego, USA dan berencana akan melanjutkan dengan mengambil program studi Kedokteran yang  juga masih di negara Paman Sam tersebut.


Saat ia berlibur di Indonesia, sang ibu menyarankan untuk mendaftar kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (FK UKI). Memang pada kala itu universitas yang terletak di Cawang tersebut sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru.


Ia pun menuruti saran sang ibu. Tanpa persiapan sama sekali ia berhasil diterima sebagai salah satu mahasiswa kedokteran.


Keputusan 'last minute' yang telah membawanya pada perjalanan hidup selanjutnya. Namun diyakini bahwa doa sang ibu tak akan pernah putus untuk anaknya. Maka ia pun melenggang mulus menyelesaikan studi kedokteran di UKI dilanjutkan dengan mengambil spesialisasi Kulit & Kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Semarang.


Babak demi babak kehidupannya dalam meraih predikat sebagai dokter mumpuni diraihnya hingga pada awal tahun 2015 beliau menyelesaikan program doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI).

Kini DR.dr. Ago Harlim.MARS., SpKK begitu nama lengkap dan predikat yang disandangnya aktif mengajar di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin,Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.
Selain itu dr.Ago menjabat sebagai Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin juga sebagai Ketua Penelitian Ilmiah Fakultas Kedokteran UKI.


Banyak pemikiran-pemikiran bagus darinya mengenai dunia kedokteran "Puskesmas adalah program yang baik, dulu dengan adanya program PTT dimana para dokter yang baru lulus di tempatkan di Puskesmas membuat Puskesmas menjadi maju. Kekurangannya adalah management dan seringnya peraturan yang berubah-ubah, sehingga membikin bingung arah kebijakan kesehatan akan kemana," begitu paparan pemikirannya.


Tentu ia masih memiliki obsesi. "Sekarang banyak dokter yang 'science' nya tidak ada, hanya untuk 'prestise' saja. Padahal seorang dokter itu adalah 'scientist' harus terus menerus belajar sepanjang karier," ungkapnya yang suatu saat ia akan menjadi seorang 'scientist' di bidang kedokteran yang lebih matang dan mumpuni.


"Pemerintah harus tanggap tidak hanya membangun fasilitas kesehatan tapi juga mampu memeliharanya termasuk peningkatan sumber daya paramedisnya," ujarnya menilai kepekaan pemerintah terhadap fasilitas rumah sakit.

Harus ada sinkronisasi antar daerah dan pusat. Contohnya Pusat Rujukan Nasional tidak hanya terpusat di Ibukota tapi di setiap Wilayah Bagian Indonesia punya Pusat Rujukan besar.


Pada tanggal 11 November 2015 mendatang akan diadakan seminar yang digawangi olehnya. “Seminar membahas tentang Anti Aging dan Dermato Surgery. Pesertanya Dokter Spesialis, Dokter Umum juga  masyarakat umum agar mengenal lebih jauh dan memahami Ilmu Anti Aging yang sedang berkembang dalam masyarakat kita. Juga agar RS UKI dikenal tentunya. Ini akan menjadi agenda tahunan," ucap sang dokter yang memiliki 4 (empat) putri, dimana si sulung mengikuti jejaknya dan saat ini sedang kuliah kedokteran.

Dr. Ago,demikian panggilan singkat dan akrabnya memang sungguh dokter yang fokus dan gigih dalam berkarier. Sekilas kita akan mudah menilai pribadi dokter yang perfeksionis namun rendah hati dan murah senyum. Wajahnya selalu cerah dan tak mengherankan sulit menebak usianya.

Tentu saja, berkat kepiawaiannya sebagai dokter spesialis di bidang yang ditekuninya tersebut sehingga tercermin dari penampilannya. Semoga sang dokter bisa menularkan 'virus mumpuni' nya kepada dokter-dokter yunior yang mengikuti jejaknya.

*) Ayi Putri Tjakrawedana (Penulis Buku dan Pendiri Women Spirit & Co)