Oleh : Syamhudi

 

Jakarta, Mediaprofesi.com Red Hat, Inc., mengumumkan bahwa perusahaan telah menunjuk Paul Cormier sebagai Presiden dan CEO Red Hat, efektif per tanggal 9 April 2020.

 

Cormier sebelumnya menjabat sebagai Presiden Red Hat untuk Produk dan Teknologi, menggantikan Jim Whitehurst, yang sekarang menjadi Presiden IBM.

 

Sejak bergabung dengan Red Hat pada tahun 2001, kepemimpinan dan visi Cormier telah mendorong perkembangan strategi utama perusahaan dan perluasan portofolio produk dan layanan Red Hat.

 

Cormier telah dianggap berhasil dalam memelopori model berlangganan yang mentransformasi Red Hat dari disruptor open source menjadi pemain utama teknologi enterprise, serta mengubah Red Hat Linux dari sistem operasi yang dapat diunduh secara bebas menjadi Red Hat Enterprise Linux, platform Linux enterprise terkemuka di industri yang saat ini memperkuat lebih dari 90% perusahan-perusahaan Fortune 500.

 

Cormier telah memfasilitasi lebih dari 25 akuisisi di Red Hat, serta menggerakkan perusahaan jauh melampaui akar Linux-nya dan membantu menciptakan susunan TI modern dan lengkap berbasis inovasi open source yang mendisrupsi industri TI.

 

Ketersediaan produk-produk open source kelas enterprise yang sebenarnya di seluruh susunan teknologi dan perubahan model bisnis telah menjadikan open source sebagai sumber inovasi de facto dalam industri software, yang menghasilkan kemajuan yang lebih cepat dibandingkan yang dapat diberikan oleh vendor proprietary.

 

Selama lebih dari satu dekade, Cormier telah memperjuangkan visi akan open hybrid cloud, yang memberikan pelanggan fleksibilitas untuk menghadirkan aplikasi apa pun, di mana pun pada infrastruktur apa pun mulai dari edge dan bare metal hingga beberapa cloud publik dengan cara yang umum dan konsisten.

 

Visi tersebut membantu membangun Red Hat OpenShift, platform Kubernetes enterprise paling komprehensif di industri, sebagai tulang punggung penyebaran cloud hybrid di seluruh industri.

 

Cormier juga telah menjalin kemitraan yang mengubah industri, termasuk kemitraan bersejarah dengan Microsoft untuk menghadirkan pilihan yang lebih luas bagi penyebaran cloud hybrid.

 

Dia berperan penting dalam kombinasi struktural Red Hat dengan IBM, yang berfokus pada peningkatan dan percepatan Red Hat sekaligus mempertahankan independensi dan netralitas perusahaan.

 

Selama masa jabatannya di Red Hat, Whitehurst mengawal ekspansi dan peningkatan pengaruh Red Hat di seluruh industri teknologi termasuk meningkatkan pendapatan dari lebih dari 500 juta dolar AS menjadi hampir 3 miliar dolar AS dalam tahun fiskal perusahaan tahun 2018, serta akuisisi bersejarah Red Hat oleh IBM sebesar 34 miliar dolar AS pada tahun 2019.

 

Di bawah kepemimpinannya, Red Hat masuk ke dalam daftar Forbes sebagai “The World’s “The Most Innovative Companies” sebanyak enam kali dan masuk dalam daftar Fortune sebagai Most Admired Companies pada tahun 2019 dan 2020.

 

Selain peran barunya sebagai Presiden IBM, Whitehurst menjabat sebagai Chairman Red Hat, menggantikan Arvind Krishna, yang sekarang menjadi CEO IBM.

 

Cormier mengatakan, ketika saya bergabung dengan Red Hat, rasanya tidak mungkin untuk memprediksi bagaimana Linux dan open source akan mengubah dunia kita, namun saat ini keduanya benar-benar ada di mana-mana.

 

“Transformasi yang saya lihat terjadi di industri ini sangat menarik karena transformasi ini menghadirkan tantangan dan peluang baru,” paparnya.

 

Dikatakannya, kesempatan bagi Red Hat tidak pernah lebih besar dari sekarang dan saya merasa terhormat untuk memimpin perusahaan demi membantu pelanggan kami dalam memecahkan tantangan mereka dan menjaga Red Hat agar tetap berada di garis depan inovasi. * (Syam)