Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com – Eka Tjipta Foundation (ETF) tak henti-hentinya mencetak para mediator Indonesia yang handal, melalui pelatihan mediasi 40 jam. Pelatihan ini tidak saja dilaksanakan di kota Jakarta tetapi juga hingga ke daerah.

“Pada angkatan ke-9 nanti ETF akan melakasanakan kegiatan Pelatihan mediasi di Balikpapan, Kalimantan Timur selama tiga hari yaitu pada tanggal 13-15 September 2012. Dan sebelumnya juga pernah dilaksanakan di kota Pekanbaru, Riau,” kata Ketua Umum ETF, G. Sulistiyanto dalam kata sambutan dalm acara buka puasa bersama dengan Paguyuban Mediator ETF, di Jakarta (2/8/2012).

Menurut G. Sulistiyanto, ETF sampai dengan saat ini sudah menyelenggarakan hingga angkatan ke-8 dalam melaksanakan training 40 jam yang dipercaya oleh Badan Mediasi Indonesia (BaMI) yang sudah mendapat surat keputusan dari Mahkamah Agung.

“Ini merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa bagi yayasan yang kami pimpin, karena kita bisa menghasilkan para mediator yang tangguh dan nanti bisa bermanfaat di masyarakat,” tambahnya.

Dari 8 angkatan tersebut, maka ETF-BaMI telah menghasilkan lulusan sebanyak 204 orang. Dan mereka telah membentuk suatu komunitas baru yang disebut dengan Paguyuban Mediator ETF. Kegiatan paguyuban ini salah satunya adalah mengundang para pakar bergerak di bidang hukum untuk memberikan suatu wawasan terhadap para mediator di dalam menerapkan ilmunya di masyarakat.

Para mediator lulusan Pelatihan Mediasi ETF ini tidak hanya datang dari lingkup pilar bisnis Sinar Mas, tetapi juga datang dari perusahaan lain, kalangan penegak hukum seperti hakim, polisi dan dalam angkatan ke-8 diikuti oleh BIN, pengacara, akivis LSM hingga perwakilan lembaga pemerintah seperti BPKP dan lingkungan akademik.

“Kami selaku yayasan yang memfasilitasi terselenggaranya training ini, tentu saja mengharapkan agar acara ini bisa terus menjadi ajang pertemuan untuk tambahan ilmu bagi para mediator yang akan melaksanakan tugas di bidangnya masing-masing. Dan yang lebih khusus lagi tentu adalah di bidang mediasi,” jelasnya.

Tentu saja, lanjutnya. selain selaras dengan fokus ETF yang bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui bidang pendidikan, kami juga mengharapkan keberadaan paguyuban juga dapat mendukung perluasan pemahaman serta pemanfaatan mekaninsme mediasi di kalangan industri.

Hal ini dilakukan mengingat semakin dinamisnya sektor perekonomian dan industry nasional, berdampak pula pada meningkatnya potensi konflik atau sengketa dalam aktivitas bisnis dan industry. Melalui pemahaman berikut penanganan yang tepat atas seluruh potensi, jenis, berikut cara penuntasan setiap konflik tadii, daya saing industry akan tetap terjaga.

“Mediasi sendiri merupakan salah satu solusi alternatif sengketa industrial yang tersedia dan sesuai ketentuan pemerintah,” tambahnya.

Dengan sifatnya yang cepat, ekonomis dan fleksibel, para pihak yang berperkara tidak hanya menghemat waktu dan biaya bila dibandingkan melakukan penuntasan konflik melalui metode litigasi.

“Namun juga dapat mengupas permasalahan secara mendalam dengan tetap mengedepankan hubungan baik antara pihak yang saling berpekara,” papar G.Sulistiyanto. * (Syam)