Oleh : Syamhudi

 

Jakarta, MediaProfesi.com – Maraknya pijat refleksi yang dengan mudah kita jumpai di berbagai tempat, seperti di mal, bandara, ruko, dan di komplek perumahan. Namun, sayang nya belum semua terapis memenuhi standar internasional yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO.

 

Guna memberi pemahaman terhadap masyarakat baik bagi pasien maupun terapis dalam melakukan pemijatan yang benar sesuai dengan standar WHO, IDI Jakarta Pusat tergerak untuk menggelar Pelatihan Kemandirian Masyarakat Bidang Kesehatan (PKMK) yang pertama untuk refleksi.

 

Acara PKMK Forum akan berlangsung pada tanggal 22 April 2018 bertempat di RS Husada Jakarta Pusat dan terbuka selain para medis juga untuk masyarakat umum.

 

“Dalam Seminar dan Workshop ini akan ada sesi Pijat Refleksi, Totok Wajah Awet Muda, Akupreser untuk Nyeri Persalinan, Basic Life Support, dan juga sosialisasi Mobile JKN,” ujar dr Kemas Abdurrohim, MARS, M.Kes, Sp.Ak, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Jakarta Pusat dalam jumpa pers hari Jumat (13/4/2018) di Atjeh Connection Resto, Jakarta.

 

Menurut dr Kemas, kegiatan PKMK Forum merupakan kegiatan IDI Jakarta Pusat yang pertama bekerjasama dengan LPP Arya Medika. Topik kegiatan menyesuaikan dengan peringatan hari Kartini, yaitu Pijat Refleksi, Totok Wajah untuk Anti Aging, Akupreser untuk Nyeri Persalinan dan Basic Life Support.

 

Dia menjelaskan dalam seminar dan workshop ini akan menekankan pada patient safety standar WHO, dimana peserta akan dianjurkan 6 tahap cuci tangan sebelum tindakan, Anamnesis yang benar untuk menghindari kontra indikasi dilakukan pemijatan.

 

Disamping itu juga diperkenalkan beberapa titik akupuntur penting yang biasa digunakan untuk nyeri persalinan dan totok wajah.

 

“Kami dari organisasi profesi IDI sangat berkepentingan dalam memberikan pelatihan refleksi ini, bagaimana cara melakukannya supaya mengikuti kaidah-kaidah patient safety sesuai dengan standar WHO,” tegasnya.

 

Dalam materi yang diberikan, sambungnya, kami minta kepada pelatih supaya menjelaskan kepada peserta agar sebelum melakukan tindakan pijat refleksi atau totok wajah dan tindakan-tindakan yang bersentuhan dengan pasien mendahulukan protap atau standar internasional patient safety, diantaranya dengan melakukan cuci tangan 6 langkah terlebih dahulu sesuai dengan standar WHO.

 

Selain itu juga diberikan pelatihan tindakan anamnesis yang benar untuk menghindari kontra indikasi atau tidak boleh dilakukan pemijatan, maka itu tidak perlu dipijat, hal ini terutama untuk melindungi pasien.

 

“Jadi jangan semua pasien itu nanti kita pijat atau totok wajah, ternyata merugikan pasien itu sendiri atau dapat menyebabkan,” pungkasnya.

 

Pada seminar dan workshop ini akan dikenalkan juga beberapa titik akupuntur penting yang biasa digunakan untuk nyeri persalinan dan totok wajah.

 

Topik lainnya adalah Basic Life Support, diharapkan peserta dapat mengenali dan memberikan pertolongan untuk kasus henti jantung, sesak nafas, tersedak dan lain-lain sebelum pasien dibawa ke rumah sakit. * (Syam)