Oleh : Pratama

 

Jakarta, Mediaprofesi.com – Tak bisa dielakkan persaingan bisnis di era digitalisasi atau yang lebih dikenal bisnis cerdas sangat ketat, terutama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) khususnya di industri ritel, transportasi & logistik, dan olahraga.

 

Lim Fang How menyatakan, tolak ukur keberhasilan perusahaan atau siapapun yang mengandalkan data untuk operasional bisnis mereka maupun untuk menghadirkan layanan pelanggan terbaik.

 

Lim Fang How menyebut ada tiga tren kunci perlu diantisipasi yang akan mewarnai 2019, selain Intelligent Enterprise (Perusahaan Cerdas), dan Small Actionable Data (Data Kecil yang Dapat Diolah).

 

Otomatisasi dan kemampuan AI sekarang telah terintegrasi ke dalam berbagai aplikasi yang mentransformasi alur kerja dan interaksi manusia supaya dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat, bukan malah tersingkir oleh robot-robot dan mesin yang cerdas, sebagaimana yang ditakutkan banyak orang.

 

Semakin banyak perusahaan mengadopsi teknologi AI dan otomatisasi dengan memanfaatkan teknologi mobile untuk memberdayakan karyawan di garis terdepan mereka, dibantu tool dan data untuk mengambil keputusan yang tepat secara real-time.

 

Dengan begitu, karyawan terhindar dari pengulangan pekerjaan yang sia-sia, lebih produktif, dan lebih fokus pada hal-hal yang lebih berdampak pada pengalaman pelanggan yang lebih baik.

 

Sementara teknologi semacam drone, robot, dan machine learning (ML) serta solusi berbasis AI lainnya, akan menggandakan produktivitas yang dihasilkan tenaga kerja manusia, bukan menggantikannya.

 

Di industri T&L misalnya, teknologi semacam drone dan robot akan mempermudah manusia melakukan tugas-tugas yang membutuhkan akurasi maupun mengakses lokasi yang sulit dijangkau manusia.

 

Adapun tren kedua, Intelligent Business, berkaitan dengan Internet of Things (IoT) yang sedang naik daun. Berdasarkan riset Gartner, akan ada lebih dari 20 miliar perangkat terhubung dengan IoT pada 2020.

 

Mereka juga memperkirakan, sebanyak delapan miliar perangkat yang terkoneksi itu akan berada di area enterprise. Kenaikannya sangat signifikan, yaitu dari tujuh miliar yang tercatat pada 2017.

 

Pada tahun-tahun mendatang, memang ada kebutuhan enterprise untuk memiliki sistem kerja yang lebih kolaboratif dan lebih terhubung, dimana entitas fisik dan digital telah berkonvergensi pada berbagai channel dan model.

 

Dengan hadirnya pengembangan teknologi baru seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), kita akan semakin tergantung pada pengalaman luar biasa yang dihadirkan oleh perangkat-perangkat cerdas di sekitar kita.

 

Contohnya di industri ritel, teknologi AR akan membantu staf toko menyusun barang-barang di rak atau mengidentifikasi barang yang perlu diisi ulang.

 

Sebab itulah perusahaan perlu memberdayakan lini depan mereka untuk menciptakan sistem dialog yang memungkinkan manusia dan mesin berkomunikasi secara efektif dan alami. Tapi jangan lupakan aspek keamanan dalam teknologi IoT dengan menerapkan software keamanan macam Lifeguard dan Zebra DNA.

 

“Kami di Zebra mendapati bahwa jumlah perusahaan yang dapat didefinisikan sebagai "perusahaan cerdas" sudah meningkat dua kali lipat pada 2018,” paparnya.

 

Lim Fang How mengakui berkat 50 tahun inovasi, Zebra sukses menciptakan hand held laser barcode scanner dan kami menjadi pelopor dalam penciptaan teknologi wearable.

 

Tren ketiga, yaitu apa yang kami sebut dengan Small Actionable Data atau solusi data terintegrasi. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan berbasis data, kesuksesan enterprise di masa depan akan bergantung pada data real-time dan insight ke dalam data itu, dalam rangka menjalankan bisnis mereka secara efektif di tengah persaingan yang semakin ketat.

 

Pada 2019, prioritas akan bergeser menuju small actionable data atau data kecil yang bisa diolah. Data ini terkumpul secara alami dalam alur kerja, kemudian secara spesifik digunakan dalam suatu kasus untuk memecahkan persoalan dan mencapai hasil yang diinginkan.

 

Dalam hal pengambilan data, pemindaian barcode 2D semakin diterima luas. Di ranah perangkat pemindai barcode genggam, transisi dari pencitraan 1D menjadi 2D telah mencakup lebih dari 70% total penjualan pemindai barcode genggam.

 

Di sisi lain, UHF RFID telah melampaui inventaris barang di dunia ritel dan kini merambah dunia rantai pasokan dan manufaktur. Lebih dari 10 miliar tag UHF RFID digunakan di seluruh industri ritel, manufaktur, dan transportasi pada 2018 ini.

 

Perusahaan menginginkan solusi data terintegrasi yang tidak hanya bisa membawa teknologi pengambilan data ke tingkat berikutnya, tetapi juga terintegrasi dengan teknologi analitik canggih berbasis AI dan machine learning, yang menghadirkan panduan real-time sehingga menghasilkan insight yang dapat ditindaklanjuti untuk pengambilan keputusan cerdas.

 

Zebra telah memperkenalkan Savanna, sebuah platform layanan data yang mengumpulkan dan menganalisis data untuk mengembangkan dan menciptakan insight yang cerdas.

 

Zebra bekerja sama dengan mitra untuk mengembangkan aplikasi yang didukung oleh Savanna Data Services dan memanfaatkan teknologi seperti AI, machine learning, layanan data pihak ketiga dan blockchain.

 

Savanna memberdayakan aplikasi enterprise untuk mengumpulkan dan mengolah data dari perangkat mobile, pemindai, printer Zebra, serta perangkat pihak ketiga, dan menganalisisnya secara real-time dengan memberikan hasil analitik cepat yang dapat diterjemahkan oleh perusahaan menjadi wawasan untuk ditindaklanjuti. * (Pra/Syam)