Oleh : Syamhudi
Jakarta, MediaProfesi.com – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah hari ini (26/11/2010) telah membuka Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) yang ke-7, di Hotel Sari Pan Pacifik, Jakarta, dengan tema “Pemantapan Peranan HIPPI Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional”. Munas berlangsung mulai 26 – 28 November 2010.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Sjarifuddin Hasan menyatakan, tema Munas yang diangkat oleh HIPPI adalah suatu tema yang sangat strategik, tema yang betul-betul sangat tepat di dalam usaha kita bersama secara keseluruhan bagaimana kita membangun bangsa kita ke depan melalui pertumbuhan ekonomi.
Berkat peran HIPPI, maka pengusaha kita sekarang sudah mencapai suatu jumlah yang sangat signifikan 52,769.280, dan diantara pengusaha tersebut adalah kebanyakan berasal dari kader dan binaan-binaan HIPPI.
Sehingga pertumbuhan ekonomi sekarang ini perlu di dukung, kalau kita lihat mulai tahun 2004 dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,3% dengan standing pemerintah pada saat itu hanya sekitar Rp 437 triliun, suatu jumlah yang kalau kita bandingkan dengan saat ini, tentunya sangat tidak mendukung.
“Tetapi berkat kegigihan para pengusaha Indonesia, berkat kegigihan pengusaha HIPPI sehingga pertumbuhan ekonomi terus bertambuh,” ujar Menkop.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, pada saat krisis keuangan global, dimana pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia negatif, kita masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif 4,5% pada 2009. “Disamping itu pendapatan pemerintah semakin tinggi, dan untuk 2011APBN kita akan mencapai Rp 1.200 triliun lebih, itu berarti tiga kali lipat dibandingkan 2004, dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan bisa mencapai 6,5%,” ujarnya.
Selain itu, ujar Menkop pemerintah tetap memberikan perlindungan terhadap pasar domestic. Banyak jalan menuju Roma untuk memberikan perlindungan, dengan suatu kebijakan yang betul-betul dapat melindungi pasar yang merupakan prioritas ditengah pertumbuhan ekonomi kita.
Saya percaya di era gloalisasi ini, kita harus selalu menangkap opportunity yang ada. Pasar global demand-nya begitu tinggi. “Mari kita jaga pasar domestik. Saya setuju kita harus maju di pasar global, kita harus maju di pasar domestic juga. Tapi yang menjadi prioritas adalah pasar domestic harus kita jaga. Sebanyak 237 juta jiwa demand yang ada di Indonesia adalah menjadi incaran bagi negara-negara lain,” tambah Menkop.
Menkop optimis apabila sinergi antara HIPPI, Kadin, Pemerintah serta semua stake holders, maka tingkat pertumbuhannya akan dapat kita capai. Dan pada 2014 pertumbuhan ekonomi kita akan mencapai tingkat pertumbuhan 7,7%.
Kita sangat fokus terhadap pengusaha-pengusaha mikro, pengusaha kecil. Pengusaha mikro yang jumlahnya mencapai 52,1 juta dan sejumlah 52,7 juta pengusaha kecil yang perlu kita dorong. HIPPI punya peran penting dan prioritas dalam menuju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sementara Ketua Umum HIPPI, Suryo B. Sulisto mengungkapkan, tugas ke depan kita sangat berat, bahwa kita tahu tantangan yang dihadapi bangsa ini tidak kecil, persaingan dengan negara-negara lain makin keras dan makin ketat di era pasar bebas. “Dimana dengan mudah produk-produk asing itu masuk ke negara kita, dan ini akan berdampak kepada keberlangsungan banyak usaha-usaha daripada teman-teman kita,” kata Suryo.
Untuk itu kita harus menyikapinya sama dengan sikap yang diambil banyak negara, yaitu pijakan kita harus kepada melindungi industri dalam negeri, kepentingan nasional kita, untuk kita bias mengamankan eksistensi daripada lapangan-lapangan kerja bangsa Indonesia.
Sikap demikian dipakai juga oleh negara-negara maju seperti Amerika, mereka sangat protektif terhadap kepentingan eksistensi daripada industri-industri dalam negeri mereka. Coba saja kita mengekspor baja dan daging ke Amerika. Tidak mungkin, segala macam peraturan guna memproteksi industri dalam negerinya, mereka lakukan.
Kemudian Suryo juga mencontohkan bilamana kita mau mengekspor mobil ke Jepang, disana itu ada peraturan kalau mobil impor harus stir kiri, sementara di Jepang itu semua mobil stir kanan.
Contoh lain, ekspor kelapa sawit Indonesia ke negara tertentu, ada saja alasan mereka, ya lingkungan hiduplah, ya melanggar HAM lah.
Jadi aturan-aturan untuk melindungi industri dalam negeri itu sangat penting, ada aturan mainnya yang bisa dilakukan. Sehingga dengan demikian kita seharusnya juga bisa melakukan tindakan yang sama guna melindungi industri-industri dalam negeri kita, dengan tidak melanggar
“Untuk itu, kita tidak semena-mena membuka pasar kita, sehingga banyak industri-industri di dalam negeri terancam mati. Jadi menurut hemat saya, sikap protektif, sikap egois dan “positif”, itu harus kita miliki,” pungkas Suryo.
“Nah, sikap semacam inilah barangkali, masih kurang pada kita. Dan ini ke depan, harus menjadi sikap bersama kita baik di kalangan dunia usaha maupun di kalangan pemerintah,” harap Suryo. * (Syam)
- Fastron Gold Pelumas Resmi Mercedes Benz C-Classs Touring Championship
- Artis Internasional Lifehouse dan Rivermaya Meriahkan Arthur’s Day
- Merentang Spirit Kalimantan
- Sistem Perdagangan On Line Dan 12 Market Maker Di BBJ
- Yockie : Perjuangkan Bunga Kredit Rendah
- Sarinah Gelontorkan Dana Rp 100 M Bangun Hotel
- Hadi : Ingin Menyalurkan Aspirasi Daerah untuk Bersaing di Pasar Global
- Dhaniswara : Perjuangkan UKM agar Setara dengan Pengusaha Lainnya
- Yani Motik : Pengusaha Pribumi Siap Berkompetisi di Era Persaingan Global
- HIPPI Punya Peran Penting Menghadapi Persaingan Pasar Bebas