Oleh : Eggy
Sukoharjo, MediaProfesi.com - Hujan tiba-tiba saja tumpah. Tidak terlalu deras, memang. Meski begitu, hujan itu telah membasahi bumi Sukoharjo, Jawa Tengah. Sekitar 500 Kepala Desa (Kades) dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah yang siang hari ini, Selasa (3/1/2012) berkumpul di Candi Resto, jalan Solo Raya Baru nomor 33, Sukoharjo pun seperti mendapat energi tambahan.
“Hujan adalah berkah dari Allah Yang Maha Kuasa. Orang-orang tua kita dulu percaya, hujan juga jadi pertanda bahwa cita-cita kita, yaitu disahkannya UU Desa, akan tercapai. Insya Allah. Amin...,” ujar Rizal Ramli, Ketua Dewan Pembina Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara, yang disambut gemuruh tepuk tangan para Kades.
Dari rumah makan ini, Parade Nusantara akan menentukan tonggak sejarah perjuangan bagi kesejahteraan rakyat desa. Karenanya, Sudir Santoso Ketua Umum Parade Nusantara, seperti tidak pernah kehabisan energi dalam membakar semangat juang anggotanya yang berjumlah sekitar 73.000 kepala desa di seluruh Indonesia.
“Jangan berkata anda sudah lelah berjuang. Saya sudah empat bulan tidak ketemu anak istri, karena keliling nusantara untuk membakar semangat teman-teman. Hari ini saya dan pak Rizal Ramli terdampar di Jateng untuk mengawal UU Desa. Sebelumnya kami sudah ke Banten dan Pandaan, Jatim,” ungkap Sudir.
Sudir yang seperti biasa berbaju lengan panjang dan berpeci hitam tersebut kemudian menjelaskan panjang lebar kiprah Rizal Ramli di Parade Nusantara. Mantan Menko Perekonomian itu bukan baru kemarin cawe-cawe di organisasi para kepala desa. Dia sudah menjadi Ketua Dewan Pembina sejak enam tahun lalu.
“Saya sengaja kembali menyeret-nyeret pak Rizal Ramli lagi. Perjuangan kami sepertinya sudah mencapai titik klimaks setelah untuk kesekian kalinya demo di jakarta tetap saja diabaikan. Saat itu saya berpikir, saatnya mengeluarkan ‘singa’ Parade Nusantara untuk turun gelanggang. Maka, jadilah saya dan pak Rizal Ramli keliling membakar semangat kawan-kawan untuk tetap konsisten mengawal UU Desa,” papar Sudir.
Pilih pulang nama
Sudir dan kawan-kawannya memang wajar kalau marah. Dua kali mereka ditipu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan iming-iming akan dibuatkan UU Desa, Sudir bekerja keras mendulang suara para Kades dan masyarakatnya untuk memenangkan SBY sebagai presiden pada 2004.
Namun setelah jasa-jasa disorongkan, janji itu ternyata tidak terbukti. Hal serupa juga terjadi pada Pilpres 2009, kembali SBY menebar janji yang akhirnya tak kunjung terbukti.
SBY ingkar janji terhadap Parade Nusantara juga dikuatkan Suryo Hadianto, Sekretaris Desa Towangsang, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. “Saat Kongres Parade Nusantara di Solo, SBY sudah janji akan menerbitkan UU Desa kalau kita mendukung dia jadi Presiden. Tapi, janji itu tidak ada buktinya. Sebaiknya kita menuntut SBY karena melakukan pembohongan publik di Polsek Pasar Kliwon, Solo,” ujarnya.
Sehubungan dengan itu, Sudir bertamsil Parade Nusantara sudah memenangi semua pertandingan sejak babak penyisihan, 16 besar, 8 besar, empat besar, dan semi final. Karenanya organisasi para Kades ini bertekad harus memenangi grand finalnya, UU Desa harus disahkan dalam tempo sepekan.
“Kalau tidak, saya lebih suka pulang nama dan pakaian yang diantarkan teman-teman kepada keluarga di rumah,” tukas Sudir yang disambut tepuk tangan dan yel-yel “hidup, hidup, hidup!”.
Kekecewaan demi kekecewaan Parade Nusantara membuat organisasi ini berubah seperti banteng terluka. Mereka sudah melihat tidak ada kata untuk mundur. Pilihannya, sahkan UU Desa atau revolusi. “Kalian sanggup?” tanya Sudir dengan suara bergema yang segera disambut teriakan “Sanggup!” yang menggelegar dari para Kades yang hadir. * (Egg/Syam)