• Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Financial
  • Industri
  • Politik
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Hukum
  • Gaya Hidup
  • Nusantara

Antisipasi Krisis Pangan Akibat Keterbatasan Lahan

Rabu, 08 Februari 2012 07:17 |  E-mail

Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com - Dalam menghadapi kebutuhan pangan yang terus meningkat dengan pertumbuhan penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9 milyar di tahun 2045, dan pertambahan pendapatan dimana menurut perhitungan organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) produksi pangan dunia harus naik 70% dari produksi saat ini.

Sedangkan ketersediaan lahan pertanian dunia tidak bertambah. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk mengantisipasi kekurangan pangan yang dapat menimpa dalam negeri maupun negara-negara lain di dunia.

“Krisis pangan dewasa ini dan di masa depan tidak saja dihadapi oleh negara-negara miskin, tetapi juga oleh negara-negara maju baik di Asia maupun di Eropa,” ungkap Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam sambutannya pada acara Jakarta Food Security Summit 2012, di Jakarta (7/2/2012).

Menurut Suryo, pasok pangan dari negara berkembang ke negara-negara maju terus mengalami kemerosotan karena berbagai faktor. Di lain pihak, negara maju sendiri memiliki kesulitan dalam menyediakan cukup bahan pangan karena masalah kekurangan lahan serta iklim yang tidak menentu.

Krisis pangan, lanjutnya, tidak terjadi hanya karena faktor iklim yang tidak bersahabat, tetapi juga terkait dengan masalah krisis energi, pemanfaatan pangan untuk energi, krisis politik di beberapa negara, krisis ekonomi dan moneter dunia, laju kerusakan lingkungan yang terus meningkat, pertumbuhan ekonomi yang mendorong penggunaan tambahan lahan untuk industri dan pemukiman serta banyak faktor lokal yang lain.

“Oleh karena itu, kami, dunia usaha menyadari sepenuhnya bahwa upaya memenuhi pangan secara berkelanjutan pada tingkat nasional merupakan komitmen yang luar biasa besar,” tambahnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Peternakan Franky O. Widjaja mengatakan, dibalik permasalahan yang cukup komplek, tentunya terdapat potensi besar di Indonesia yang perlu segera digali dan dikembangkan untuk percepatan terwujudnya kemandirian dan kedaulatan pangan di Indonesia.

“Sehingga pada gilirannya, Indonesia diharapkan tidak hanya bisa memasok kebutuhan pangan dalam negeri saja, tetapi juga dunia melalui komoditas-komoditas unggulan nasional,” ujar Franky.

Sebagai upaya antisipasi dan wujud dari komitmen Kadin terhadap pembangunan pangan nasional, Kadin Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan dan Peternakan telah melaksanakan serangkaian acara dalam rangka pemantapan Jakarta Food Security Summit "Feed Indonesia Feed The World," seperti Roundtable, Seminar, Lokakarya, Simposium serta Dialog Pakar dimana pada masing-masing kegiatan tersebut melibatkan para stakeholder terkait dan ini dilakukan sejalan dengan program Pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Seperti diketahui, Road Map Ketahanan Pangan Nasional terkait komoditas unggulan pangan, enam diantaranya, yaitu kelapa sawit, kakao, peternakan, makanan dan minuman, pertanian pangan serta perikanan masuk dalam kegiatan ekonomi utama MP3EI.

“Untuk di masa yang akan datang, jika kita mampu menjawab seluruh tantangan yang ada dan mengurangi hambatan-hambatan yang dihadapi, Indonesia berpotensi menjaring devisa minimum sebesar USD 101.5 miliar dalam kurun waktu 2010-2014,” kata Franky.

Dalam kesempatan yang sama, sebagai bukti dari peran swasta di bidang agribisnis, pangan dan peternakan dalam MP3EI diberikan penghargaan dari pemerintah kepada 12 perusahaan yang telah merealisasikan proyeknya di enam koridor ekonomi.

Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain, PT Bumi Tangerang Mesindotama dengan nilai investasi Rp 800 milyar, PT Karya Indah Alam Sejahtera Rp 360 milyar, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Rp 2,2 triliyun, PT Sukses Mantap Sejahtera Rp 2,7 triliyun, PT Nestle Indonesia Rp 1,8 triliyun, PT SMART (Sinarmas) Rp 1,47 triliyun, PT Great Giant Pineapple Rp 1,9 triliyun, PT Agri Makmur Pertiwi Rp 50 milyar, PT Bina Mentari Tunggal Rp 300 milyar, PT Laju Perdana Indah (Indofood Group) Rp 2,5 triliyun, PT Tri Putra Agro Persada Rp 100 Milyar, dan PT Bakrie Sumatera Plantation Rp 1,8 triliyun. * (Syam)

 
Berita Lainnya
  • Indosat Gandeng Tower Bersama untuk Penjualan 2500 Menara
  • ZTE Kuasai Pasar Dunia untuk Teknologi Next-Generation PON
  • Indosat Mobile Luncurkan Paket Lengkap dengan Harga Terjangkau dan Dipilih Langsung Oleh Pelanggan
  • Pernyataan Pangdam Jaya Mewakafkan Dirinya, Melanggar Konstitusi, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit
  • Antisipasi Krisis Pangan Akibat Keterbatasan Lahan
  • Kadin Siapkan Dana Rp 60 Miliar Untuk Pengusaha Agribisnis Menengah
  • Mercedes-Benz Cetak Pertumbuhan Penjualan 16% pada 2011
  • Asuransi Sinar Mas Targetkan Premi Rp 4,5 Trilyun pada 2012
  • Honda Motor Co., Ltd Perkenalkan Acura NSX Concept
  • Merecedes-Benz C 63 AMG Coupe Hadir dengan Desain Lebih Dinamis

Copyright mediaprofesi.com © 2010