Oleh : Oryza
Pekanbaru, Riau, MediaProfesi.com - Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja.mengungkapkan, sejumlah komoditas strategis memerlukan inovasi pembiayaan untuk merealisasikan produktivitas ideal seperti yang diharapkan.
Franky menjelaskan kisah sukses komoditas kelapa sawit dengan program Inti-Plasma yang merupakan pola kemitraan antara petani dan pelaku usaha yang didukung Pemerintahdan World Bank, telah terbukti menjadikan Indonesia unggul sebagai produsen kelapa sawit nomor satu di dunia.
“Terobosan inovatif pembiayaan perlu dikembangkan untuk komoditas lainnya,” ungkap Franky pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kadin Indonesia bertema”Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan Lingkungan Sebagai Kunci Utama Peningkatan Produksi dan Produktivitas Satu Juta Petani melalui Pola Kemitraan Inti – Plasma dengan Dukungan Inovasi Pembiayaan” yang berlangsung pada tanggal 16-17 di Pekanbaru Riau.
Peningkatan produktivitas yang berkelanjutan telah menjadi perhatian para pelaku usaha nasional dalam mendorong target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa tercapai hingga 6 % sekaligus memenuhi target penurunan emisi sebesar 26% di tahun 2020.
Oleh karena itu, ungkap Franky, jalur keuangan pertanian, perlu dievaluasi agar menjadi lebih baik dan terarah. Skema-skema baru yang cocok bisa diterapkan misalnya dengan resi gudang atau inovasi pembiayaan melalui lembaga non bank yang khusus ke pertanian.
“Kedepan perlu juga adanya sinergitas antara kebijakan makro dengan praktik-praktik usaha mikro, demikian halnya dengan pola Inti-Plasma,” jelasFranky.
Pihaknya juga mengaku, saat ini tengah merancang paket inovasi pembiayaan agribisnis untuk petani sawit, sebagai prototype untuk dikembangkan lebih lanjut di berbagai komoditas dengan lingkup yang lebih besar, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mengacu pada program 10 Years Sustainable Consumption and Production (SCP).
Permasalahan utama para petani Indonesia antara lain adalah ketersediaan biaya pada saat diperlukan, disamping keterbatasan lahan, akses pasar dan teknologi. Selain itu, para petani sering menghadapi kesulitan likuiditas karena asset petani yang tidak bankable dan terbatasnya penjamin pinjaman (kolateral).
Berangkat dari pengalaman tentang pola kemitraan antara petani dan pelaku usaha yang didukung oleh Pemerintah dan World Bank (PBSN) pada era tahun 80 an dan sangat berhasil, telah membuktikan bahwa kisah sukses komoditas kelapa sawit dengan program kemitraan Inti - Plasma ini telah terbukti menjadikan Indonesia unggul sebagai produsen kelapa sawit nomor satu di dunia.
Sejak program PBSN diluncurkan pada tahun 1984, industri perkebunan kelapa sawit tumbuh secara eksponensial di Indonesia, sehingga pada saat ini Indonesia telah menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, dengan total produksi tahun 2012 sebesar 26 juta ton dan diperkirakan produksi tahun ini diprediksikan akan mencapai 28.9 juta ton.
Letak kunci suksesnya (across the board) adalah pada Manajemen Kebun sepenuhnya dilakukan oleh Inti (perusahaan) untuk menjamin terlaksananya budidaya pertanian terbaik (Good Agriculture Practices), dengan demkian yield (hasil produksi) akan lebih tinggi dan juga Inti dapat menjadi Avalist (penjamin).
Kemudian petani harus dikoordinir menjadi kelompok koperasi, agar pengelolaan lebih efisien. Sementara pengembalian ke bank melalui Koperasi lebih dioptimalkan, karena yield (hasil produksi yang tinggi) dan ada penjaminan dari Inti.
Sedangkan, biaya hidup petani sudah dimasukkan dalam komponen biaya penanaman, dengan demikian Petani akan terjamin kelangsungan hidupnya selama replanting (penanaman kembali). Adapun tingkat bunga yang kondusif, maksimal 6 %, dengan memberikan masa pinjaman 8-9 tahun.
“Oleh karenanya perlu pula mendapat dukungan penuh dari instansi terkait,” ungkap Franky.
Franky memberikan asumsi perhitungannya secara kasar adalah, dengan meningkatkan produktivitas Kebun Sawit Swadaya dari 2 ton menjadi 5 ton, akan mendapatkan peningkatan pendapatan dari US$ 4 miliar menjadi US$ 10 miliar untuk 2 juta ha, suatu kontribusi untuk pembangunan nasional yang cukup besar artinya.
Apabila pola ini dikembangkan di komoditas pertanian lainnya : padi, jagung, kedelai, gula tebu, hortikultura, peternakan, dll, swasembada pangan diyakini akan segera terwujud, dan program The New Vision of Agriculture dalam “meningkatkan produktivitas pertanian 20 %, mengurangi emisi karbon dioksida 20 % dan menekan kemiskinan 20 %” dapat tercapai. * (Ory/Syam)
- DSEA 2013 Umumkan 5 Pejuang Kesejahteraan yang Ulet dan Tangguh
- Bloomberg Billionaires Index Keliru Tempatkan Eka Tjipta Widjaja sebagai Orang Terkaya
- Rakuten Tempati Kantor Baru
- Datsun Ramaikan Peta Persaingan Mobil di Bawah Rp 100 Juta
- Honda Luncurkan Brio Satya Mobil Murah dan Ramah Lingkungan
- Rayakan HUT Ke-7, Senayan City Luncurkan Infinite Card
- Inovasi Pembiayaan untuk Satu Juta Petani Sawit
- Gunung Sinabung Meletus dan Muntahkan Abu Vulkanik
- Indosat Luncurkan Mobil Klinik Ceria
- ONE Fighting Championship™ Hadirkan Kotetsu Boku vs Vuyisile Colossa