Oleh : Syamhudi
Jakarta, MediaProfesi.com – Sejak satu setengah dekade lalu industri perkebunan sawit berkembang pesat sekali terhadap permintaan dunia atas minyak sawit yang terus tumbuh. Dan seiring dengan itu, dinamika yang muncul tentang isu lingkungan pun terus berhembus.
Untuk menjawab atau mengambil langkah terhadap dinamika yang berkembang di dalam industri kelapa sawit, baik di Indonesia, regional maupun dunia. Sejak beberapa tahun lalu PT SMART Tbk bersama dengan WWF dan CIRAD (suatu lembaga riset internasional dari Perancis) berencana mengadakan konferensi internasional untuk yang ketiga kalinya yaitu Internastional Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) pada 22 hingga 24 Februari 2012 di Bali.
“Kami bertiga duduk bersama menyusun suatu rencana untuk melakukan suatu konferensi internasional dengan menghadirkan para ahli, akademisi, NGO, LSM nasional dan internasional, praktisi kelapa sawit baik upstream maupun down stream,” kata Direktur Utama PT SMART Tbk, Daud Dharsono yang juga tergabung dalam Streeng Committee ICOPE 2012., dalam jumpa pers di Jakarta (20/1/2012).
Menurut Daud, tujuan digelarnya konferensi intenasional ini adalah mencari solusi untuk memproduksi minyak kelapa sawit yang lestari, sejalan dengan meningkatkan produksi dan tetap memperhatikan lingkungan, sehingga dinamika yang terjadi ini bisa disikapi dan ada jalan keluarnya.
“Jadi sambil menjaga kelestarian hutan dan menjaga lingkungan. Selain itu juga meningkatkan produksi minyak kelapa sawit baik di Indonesia, regional maupun dunia,” ujarnya.
Pada konferensi kali tema yang diangkat adalah “Koservasi Hutan, Meningkatkan Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan”.
Ditambahkan Anggota Streeng Committee lainnya Tony Liwang bahwa pada konferensi yang ketiga ini, isu yang diagkat konsen terhadap lingkungan kelapa sawit, dimana dalam konferensi ketiga ini bagaimana mengkonservasi hutan, dan juga meningkatkan produksi minyak sawit yang ramah lingkungan.
“Kalau saya melihat iperkembangan ICOPE pertama, isitilah saya ICOPE pertama yakni ICOPE satu menterti karena yang datang hanya satu yakni Menteri Pertanian. Kemudian ICOPE kedua, dua menteri yaitu Menteri Pertanian dan Menteri Lingkungan Hidup. Sedangkan ICOPE ketiga, tiga menteri yang Menteri Pertanian, Menteri Lingkungan Hidup dan menteri kehutanan,” ujar Tony.
Hal ini menunjukkan bahwa konsen itu semakin besar sesuai dengan dinamika yang berkembang. Kalau dulu identik dengan pertanian saja, kemudian berlanjut kepada isu lingkungan. Sedangkan terakhir ini berkembang isu dengan pembukaan perkebunan kelapa sawit adalah menghilangkan hutan. “Anggapan penghilangan hutan itu tidaklah benar,” bantah Tony.
Oleh karena itu, lanjut Tony, pada konferensi ketiga yang rencananya dibuka oleh Menteri Pertanian RI, akan menghadirkan tiga instansi terkait yaitu Kementerian Pertanian, kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan.
Diharapkan segala permasalahan dari isu yang berkembang dapat didiskusikan dan dicarikan solusi untuk membuat konservasi hutan selaras dengan momentum global perkembangan industri kelapa sawit saat ini. Sehingga industry kelapa sawit mendapat dukungan dari berbagai pihak, mengingat prospek yang bagus di pasar dunia. seiring dengan meningkatnya permintaan serta konsumsi dunia dan domestik.
Sedangkan Direktur Transformasi Pasar, WWF Indonesia, Iirwan Gunawan mengatakan bahwa konteks keterlibatan WWF dalam ICOPE ini masih dalam kerangka besar konservasi WWF, yaitu mendorong pembangunan perkebunan kelapa sawit Indonesia agar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan.
“Ini bukan pertama kali WWF bekerjasama dengan Sinar Mas dan CIRAD dalam menyelenggarakan event scientific seperti ini, bahkan sudah ketiga kalinya. Jadi tetap dalam koridor bahwa WWF tidak pernah memusuhi industry,” ujar Irwan yang juga salah satu anggota Streeng Committee ICOPE ketiga.
Lebih lanjut Irawan menegaskan justru sebaliknya bahwa private sektor, kalangan akademisi dan pemerintah ikut bekerjasama untuk mewujudkan pencapaian tiga pilar dari palm oil yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.
WWF, ujarnya tidak hanya selalu mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan dampak lingkungan dari industri kelapa sawit, tapi juga mendorong adanya upaya-upaya untuk menemukan solusi yang menyeimbangkan ketiga kepentingan tadi.
Secara spesifik dalam ICOPE 2012 ini WWF akan mengangkat isu, bagaimana mendorong pasar internasional untuk memberikan intensif kepada negara-negara produsen minyak sawit, terutama Indonesia dan negara produsen lainnya, agar pasar juga ikut berkontribusi untuk mewujudkan dalam mencapai kelestarian industri kelapa sawit terutama di Indonesia itu ada additional costnya.
“Jadi kalau produsen itu mengeluarkan cost, maka seyogyanya pasar untuk turut juga memberikan apreasiasi,” ujarnya.
Selain itu juga WWF mendorong pemerintah sudah saatnya untuk melakukan reinvestasi kepada industry kelapa sawit. Karena posisi Indonesia sangat strategis, dalam pangsa pasar minyak kelapa sawit dunia, dimana Indonesia adalah eksportir nomor satu di dunia.
“Tentunya banyak sekali isu-isu yang berkembang baik dari sisi lingkungan dan sosial, maka pemerintah harus segera mengintegrasikan aspek-aspek sosial dan lingkungan dalam pembangunan jangka panjang untuk industri kelapa sawit,” kata Irwan. * (Syam)
- SMART Fasilitasi Wahana Pembelajaran Masyarakat di Perkebunan
- UU Resi Gudang akan Mubazir Bila Tak Diimplementasikan Pemda
- Resi Gudang JadikanSistem Perdagangan Lebih Transparan
- IIMS 2012 Hadir dengan Nuasa dan Warna Baru
- Mutu Guru Tantangan Utama Pendidikaan Nasional
- Rumah.com Targetkan 6.000 Pengunduh Layanan Terbaru Aplikasi BlackBerry
- Indosat Raih Penghargaan sebagai Perusahaan Paling Dikagumi di Indonesia
- ZTE Luncurkan Smartphone ZTE Racer II
- 153 SMU di Indonesia Nikmati Program Indosat Cyber School
- Bisnis Tanpa Karakter dan Integritas akan Hancur