Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com - Yayasan Sabilal Muhtadin pada hari Minggu (17/7/2016) melaksanakan peringatan haul ke-210 Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary atau yang akrab disapa dengan Datuk Kalampayan di masjid Sabilal Muhtadin, Pisangan Baru Jakarta Timur.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh zuriat (keturunan) Beliau yang tinggal di Jakarta ini turut dihadiri alim ulama, habaib, perwakilan Polres Jakarta Timur, warga Banjar yang tinggal di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Dan juga habaib dari Singapura yang secara khusus datang menghadiri acara haul ini.

Acara didahului dengan pembacaan maulid, pembacaan ayat suci Al Quran, manaqib (sejarah singkat) Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh KH. Ahmad Khusairy salah seorang zuriat Datuk Kalampayan dari Martapura yang kini tinggal di Bandung dan KH Yusuf Kamal dari Jakarta serta diakhiri doa haul.

Dalam pembacaan manaqib disebutkan, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjary, lahir pada 15 Shafar 1122 H (19 Maret 1710 M) di Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul dan wafat di desa Dalam Pagar 6 Syawal 1227 H (13 Oktober 1812 M) dalam usia 105 tahun (menurut kalender hijriyah), dan dimakamkan di Desa Kalampayan, Martapura.

Beliau adalah seorang ulama yang sangat berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam sejarah pengembangan syiar agama Islam, khususnya di bumi Kalimantan.

Selain itu, Beliau juga sangat gigih mempertahankan dan mengembangkan faham Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan faham Asy'ariyah untuk ilmu Tauhid, dan Mazhab Imam Syafi'i untuk bidang ilmu Fiqih.

Beliau juga seorang mufti (penasehat bidang agama) pada Kesultanan Banjar, Sultan Tamidullah II dan juga seorang penulis yang produktif.

KH. Yusuf Kamal dalam tausiyahnya menegaskan bahwa Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary adalah seorang yang terkenal mengamalkan ilmu zahir dan batin.

Ilmu zahir, lanjutnya, diantaranya melaksanakan sholat, puasa, haji, umroh, berzikir dan membaca Al -Quran. Sedangkan ilmu batin diantaranya adalah hati kita ikhlas, tawaddu, zuhud dan hati kita taubat.

"Kalau orang sudah mengerjakan ibadah zahir dan meninggalkan maksiat zahir, mengerjakan ibadah batin dan meninggalkan maksiat batin. Itulah ibadah hakiki dihadapan Allah," ujarnya.

Dia juga meminta agar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diajarkan Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary dicetak untuk diperbanyak dan kita baca bersama, baik orang Banjar maupun orang luar Banjar dengan tujuan supaya kita bisa mengikuti aqidah Beliau yang Ahlus Sunnah wal Jamaah di tengah banyak sekali aliran berbagai aqidah yang dikeluarkan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dengan memperingati Beliau, KH Yusuf Kamal mengajak untuk mengikuti perkataannya, amalnya, aqidahnya, akhlaknya, dan mengikuti bagaimana cara hidup Beliau menuntut ilmu sepanjang hidupnya.

Sementara KH Ahmad Khusairy berharap agar dapat mengikuti jejak Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary dengan kebersihan hati, dan dengan ketulusan niat.

"Apabila seseorang memandang dirinya, memandang hawa nafsunya dengan pandangan penuh kesombongan, maka Allah memandang dia dengan penuh kemurkaan, akan tetapi apabila seseorang memandang dirinya, memandang hawa nafsunya, dia benci kepada hawa nafsunya maka Allah memandang dia dengan pandangan penuh keridhoan," ungakap KH Ahmad Khusairy. * (Syam)