Oleh : Muhammad
Mamuju, MediaProfesi.com – Pasca penutupan kebijakan keran ekspor bahan baku rotan oleh Menteri Perdagangan RI mulai terlihat hasilnya. Nilai ekspor produk rotan Indonesia mencapai USD 27 juta.
Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan menegaskan sejak diberlakukan Permendag mengenai penutupan ekspor bahan baku rotan mulai menunjukkan hasil yang positif, ditandai dengan meningkatnya nilai produk ekspor rotan, dan diharapkan akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.
“Terbukti dalam kurun waktu 1 bulan 19 hari (sejak Permendag dikeluarkan hingga – 21/2/2012), nilai ekspor produk rotan ternyata mampu mencapai USD 27 juta,” ungkap Gita saat meninjau sentra penghasil bahan baku rotan di Mamuju, Sulawesi Barat (21/2/2012).
Peninjauan tersebut dilakukannya bersama Menteri Perindustrian RI M.S. Hidayat dan Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan guna melihat dan mengetahui langsung di lapangan terhadap dampak kebijakan Permendag yang memberlakukan pelarangan ekspor bahan baku rotan.
Menurut Gita, angka ekspor tersebut hampir setara dengan nilai ekspor bahan jadi rotan selama 12 bulan pada tahun sebelumnya (2011), yaitu sebesar USD 32 juta.
Peningkatan nilai ekspor tersebut merupakan bukti keberhasilan kebijakan hilirisasi rotan. “Jadi kami bukan anti ekspor. Kami hanya ingin agar yang diekspor bukan bahan baku rotan, melainkan produk rotan jadi yang telah memiliki nilai tambah," ujarnya.
Pertumbuhan ekonomi Sulbar yang meningkat hingga 10,41% pada 2011 juga menunjukkan bahwa kebijakan penutupan ekspor bahan baku rotan berdampak positif terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sulbar sebagai daerah penghasil rotan.
Mendag, Menperin dan Menhut satu suara dalam kebijakan rotan ini. Ketiganya sepakat untuk membangun dan mengembangkan sentra industri rotan di daerah penghasil rotan.
“Kami ingin sentra produksi dibangun secara merata di luar Pulau Jawa, terutama yang dekat dengan daerah penghasil rotan,” tegasnya.
Komitmen pemerintah Indonesia dalam mengembangkan hilirisasi rotan di luar Pulau Jawa dapat dilihat dari peningkatan investasi untuk pembangunan sentra industri rotan di luar Pulau Jawa dari 33% pada 2010 menjadi 41% pada 2011.
“Potensi ekonomi Sulbar sangat luar biasa. Kami yakin dengan adanya peningkatan investasi di provinsi ini, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi di koridor Sulawesi. Pada akhirnya, semua ini akan bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi,” ujarnya.
Pada kesempatan ini, Gita menghimbau kepada para pengusaha rotan agar lebih memperhatikan desain agar produknya menjadi lebih kompetitif. Untuk dapat bersaing dengan produk rotan negara lain, desain harus dibuat lebih bervariasi dan menyesuaikan dengan selera pasar.
“Investasi yang meningkat harus didukung oleh kreativitas para pengusaha rotan dalam hal membuat desain. Faktor ini tentunya akan membuat industri rotan Indonesia menjadi lebih berkesinambungan,” tambahnya.
Selain desain, para pengusaha rotan dihimbau juga agar memperhatikan faktor ramah lingkungan, misalnya mengembangkan teknik pemotongan yang dapat mendukung kelestarian tumbuhan rotan. * (Muh/Syam)
- Vibiz Laksanakan Komptesi National Trading Championship
- Rumah.com Tunjuk Chris Antonius Managing Director Baru
- Indosat Luncurkan Paket Lengkap 24 Jam Nelpon, SMS dan Internet
- ASUS Perkenalkan Motherboard Chipset Intel® 7 Series
- Citilink : Pameran Harga Promo Citilink di 3 Kota
- KUPAS: Berlakukan UU Pembuktian Terbalik Murni !!
- Sinar Mas Land Hadirkan Nuansa Tropis California di Kota Wisata Cibubur
- Gejolak di KPK Rekayasa untuk Diskreditkan Abraham
- Guru Harus Mampu Menulis
- Smartfren Cetak 30 juta Kartu UMMAT