Oleh : Syamhudi
Jakarta, MediaProfesi.com – Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan dan Menteri Perdagangan Kamboja Cham Prasidh telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU – Nota Kesepahaman) mengenai beras sebanyak 100.000 ton.
Penandatanganan dilakukan di sela pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-44 di Kamboja. Nota kesepahaman ini sifatnya tidak mengikat dan berlaku sejak tahun 2012 hingga 2016.
“Selain dengan Kamboja negara produsen beras lain yang juga berminat untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia, yaitu Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar,” ungkap Gita kepada wartawan di ruang wartawan Kementerian Perdagangan, Jakarta (31/8/2012).
Menurut Girta, sesuai dengan semangat yang kita kemukakan disana bahwa kita sangat terbuka dengan negara-negara produsen beras, bukan hanya dengan kamboja saja, tapi juga Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar, dan mereka minat sekali untuk kerjasama dengan kita.
Nota Kesepahaman (MoU) yang baru saja ditandatangani ini hanyalah merupakan sebagai payung hukum supaya Bulog di kemudian hari bisa melakukan negosiasi kepada masing-masing mitranya di masing-masing negara tersebut, bila diperlukan dalam melakukan impor beras, sesuai dengan kebutuhan dalam negeri.
Gita mengingatkan bahwa sikap yang diambil dalam MoU mengenai impor beras ini hanyalah untuk menjaga dari kemungkinan kita kekuarangan stok beras.
“Karena banyak sekali proyeksi yang dikeluarkan oleh lembaga yang mengisayaratkan bahwa anomali cuaca akan lebih banyak terjadi ke depan, sehingga ke khawatiran kecukupan pasok pangan itu mungkin tidak gampang,” ujar Gita.
Dalam melaksanakan impor ini kita juga harus memperhatikan dari rencana Indonesia untuk menghasilkan 10 juta ton surplus tahun 2014. Tentu saja itu berkaitan erat dengan upaya Indonesia dalam meningkatkan produktivitas dan produksi beras.
Gita menegaskan kita jangan hanya melihat dari sisi suplainya saja, tapi juga untuk lebih bisa menyimak dari sisi demand. Karena sisi demand yang harus disikapi, mengingat kita konsumen beras yang tertinggi di dunia per orang.
“Kalau kita bisa mengurangi konsumsi beras dari 140 kg menjadi 100 kg saja per orang per tahun, maka 40 kg penghematannya tersebut per orang per tahun dikalikan 250 juta penduduk Indonesia, sudah 10 juta ton, maka langsung kita bisa mencapai surplus 10 juta ton,” jelasnya.
Menurutnya, kalau mau aman buffer stock harus dijaga 2 – 3 juta ton, dan sekarang masih di atas 2 juta ton. Jadi berapa besar kita harus melakukan impor dari masing-masing negara yang sudah kita tandatangani MoU baik kepada Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos dan Thailand, semuanya ketergantungan buffer stock yang harus disediakan.
“Ini juga harus di mapping dengan sejauh mana kita bisa meningkatkan produktivitas,” tutupnya. * (Syam)
- Mendag RI Pererat Hubungan Ekonomi dengan Hong Kong
- BII Luncurkan Paperless Account Opening System
- Kemendag Segera Terapkan Ijin IT untuk Produk Kedelai dan Jagung
- Penjualan Honda Brio Melejit Kencang di Bulan Pertama
- Pemerintah akan Terapkan HPP Kedelai dan Jagung
- GEMS Catat Produksi Semester I Tumbuh 67%
- Harga Daging Sapi Bakal Ngamuk di Akhir Tahun Bisa Capai Rp 100.000/Kg
- Mendag RI Tandatangani MoU Impor Beras asal Kamboja 100.000 Ton
- Ribuan Warga Banjar Jakarta Tumpah Hadiri Haul ke-206 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
- Kontradiksi Penyediaan Air