• Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Financial
  • Industri
  • Politik
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Hukum
  • Gaya Hidup
  • Nusantara

Ribuan Warga Banjar Jakarta Tumpah Hadiri Haul ke-206 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary

Minggu, 02 September 2012 21:27 |  E-mail

Oleh : Syamhudi

Jakarta, MediaProfesi.com – Walau pun jauh dari kampung halaman, namun rasa hormat dan kecintaan serta kerinduan warga Banjar khususnya dan warga se-Kalimantan yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), hadir dalam acara haul ke 206 ulama besar asal kelahiran Banjar tepatnya berada di wilayah Martapura bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary atau yang disebut juga oleh warga Banjar yaitu Datuk Kalampayan.

Dari ribuan warga yang hadir hari ini, Minggu (292012) di acara haul yang dilaksanakan setiap tahun pada minggu kedua bulan Syawal di Masjid Sabilal Muhtadin, Pisangan Baru, Jatinegara, Jakarta Timur ini tidak hanya warga Jabodetabek saja, bahkan ada yang datang dari daerah Banten, Bandung dan daerah lainnya. Karena membludaknya warga yang hadir hingga masjid tidak dapat menampung lagi, sehingga panitia menutup jalan masuk menuju masjid sementara, guna memberikan kenyamanan bagi warga yang hadir.

“Pelaksanaan haul ini dilaksaakan setiap tahun setiap minggu kedua bulan Syawal. Dan di wilayah Pisangan ini khususnya dan Jabodetabek masih banyak yang terikat keluarga dengan Beliau,” ujar Ustadz H. Madani, Ketua Panitia Pelakana haul Syekh Muhammad Arsyad Al-banjary yang ke-206 kepada MediaProfesi.com.

Menurut Ustadz H. Madani, pelaksanaan di Jakarta ini untuk memberikan kesempatan bagi keturunan Beliau dan warga Banjar serta warga se-Kalimantan yang tidak bisa hadir pada haul di Kalampayan, Martapura, Kalimantan Selatan.

Selain warga Banjar turut hadir juga Kepala Perwakilan Daerah Kalimantan Selatan di Jakarta beserta staf, para pejabat tinggi pemerintahan pusat di Jakarta, para pejabat tinggi DKI Jakarta, para Habaib diantaranya Habib Abdurrahman Al-Habsy (Habib Kwitang), para alim ulama, dan tokoh masyarakat baik dari Banjar maupun Betawi.

Antusias warga yang hadir, bisa dilihat sejak pukul 07.30 WIB sudah mulai berdatangan ke tempat acara, walaupun sesuai undangan panitia acara baru dimulai pada pukul 09.00 WIB. Untuk menghilangkan rasa jenuh warga yang hadir lebih awal, maka dimulai dengan membaca sholawat yang diiringi dengan snoman (Khas Banjar) atau rebana. Kemudian tepat pukul 09.00 acara dimulai dengan tahlilan, pembacaan doa arwah khusus Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan dengan batasmiyah (pemberian nama kepada anak yang baru lahir).

Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan manakib (riwayat hidup) Syekh Muhammad Al-Banjary, Tausiyah yang disampaikan oleh KH. Kamal Yusuf dan dilanjutkan dengan doa penutup oleh Habib Abdurrahman Al-Habsy (Habib Kwitang).

Di dalam manakib disebutkan bahwa Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari Kamis dinihari 15 Shafar 1122H, bertepatan 19 Maret 1710 M. Anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama, yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Beliau lahir di masa pemerintahan Sultan Kerajaan Banjar, Sultan Tahmidullah.

Beliau sejak usia 8 tahun sudah fasih dalam membaca Al-Quran, dan seorang anak yang taat kepada kedua orang tuanya, jujur dan santun serta mudah bergaul di kalangan anak sebayanya. Sehingga terdengar ke telinga Sultan Tahmidullah. Maka Sultan datang ke rumah beliau dan meminta izin kepada kedua orangnya untuk dibawa ke Istana dan akan diasuh sebagai anak sendiri serta akan diberikan pelajaran agama.

Setelah dewasa Beliau dinikahkan dengan seorang wanita solehah bernama Bajut. Ketika isteri Beliau mengandung anak pertama, terlintas di hati Beliau suatu keingina yang kuat untuk menuntuk ilmu di tanah suci Makkah. Dan diantara guru Beliau adalah Syekh Samman Al-Madany. Di antara teman Beliau sewaktu belajar di Makkah adalah Syekh Abd. Shomad Al-Palembani (Palembang), Syekh Abd. Wahad Bugis (Makassar) dan Syekh Abd Rahman Mesri (Betawi).

Sekembalinya ke tanah air, Beliau mengembangkan ilmu agama, dan banyak mengarang buku-buku ilmu agama, di antara buku Beliau yang terkenal adalah bernama kitab “Sabilal Muhtadin” sebanyak dua jilid. Dan kemasyhuran kitab ini hingga sampai ke negara tetangga yakni Malaysia, Brunei Darussalam dan Pattani (Thailand Selatan).

Bahkan warga Banjar banyak mengabadikan sekaligus mengambil karomah dari kitab Beliau yang terkenal itu di ataranya Masjid Agung Sabilal Muhtadin di Banjarmasin, dan masjid Sabilal Muhtadin di Pisangan Baru, Jatinegara, Jakarta Timur.

Setelah kurang lebih 40 tahun lamanya Beliau mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari Selasa, 6 Syawal 1227 H (1812 M) Allah SWT memanggil Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary ke hadirat-Nya. Usia Beliau 105 tahun dan dimakamkan di desa Kalampayan, Martapura, Kalimantan Selatan, sehingga Beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

KH. Kamal Yusuf dalam tausiyahnya mengatakan haul ini sesuatu yang dipuji Allah SWT untuk memintakan ampun kepada Allah SWT bagi orang yang telah meninggal dunia. Ini haul yang kita peringati adalah mengikuti tabiin dan para ulama, dimana kita berdoa untuk almarhum Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

Menurutnya, disamping kita berdoa, kita juga mentauldani Beliau, dimana sejak usia 8 tahun sudah belajar agama dan fasih dalam membaca Al-Quran, kemudian Beliau diberi kesempatan belajar agama di kota Makkah selama 30 tahun.

“Semangat Beliau menuntut ilmu luar biasa, semangat untuk mengetahui agama luar biasa. Karena dengan belajar agama, kita menjadikan diri kita yang terbaik dan penuh kebaikan,” ujar KH Kamal Yusuf.

Dan Allah berikan ilham kepada Beliau untuk mengamalkan agama, lanjutnya, Beliau orang-orang yang betul-betul ingin memahami agama, mengamalkan agama, sampai Beliau syiarkan agama kepada muridnya, masyarakatnya bahkan Beliau mempunyai keuturunan ulama dalam membina murid, membina masyarakat, membina keluarga menjadi orang alim yang beragama.

“Ini adalah pelajaran yang dapat kita ambil dari Beliau. Berarti Beliau menekankan syariat itu adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar oleh manusia,” tegasnya.

Karena syariat itu merupakan cahaya bagi manusia, syariat petunjuk bagi manusia. Jadi dalam memperingati haul ini, KH Kamal Yusuf mengajak untuk menteladani Beliau dalam segi ilmu, baik ilmu zhahir maupun ilmu batin. Ilmu zhair adalah ilmu syariah kita pelajari ilmu tauhid, ilmu fiqih dan kita pelajari ilmu tasauf.

Sedangkan ilmu batin adalah ilmu yang mengajarkan kita ilmu bersih hati dari sifat-sifat yang dicela Allah, sifat kikir, sifat riya, sifat sombong, sifat cinta dunia dan sifat-sifat tercela lainnya. “Maka Beliau sudah menguasai ilmu zhohir dan batin,” tutupnya. * (Syam)

 
Berita Lainnya
  • Mendag RI Pererat Hubungan Ekonomi dengan Hong Kong
  • BII Luncurkan Paperless Account Opening System
  • Kemendag Segera Terapkan Ijin IT untuk Produk Kedelai dan Jagung
  • Penjualan Honda Brio Melejit Kencang di Bulan Pertama
  • Pemerintah akan Terapkan HPP Kedelai dan Jagung
  • GEMS Catat Produksi Semester I Tumbuh 67%
  • Harga Daging Sapi Bakal Ngamuk di Akhir Tahun Bisa Capai Rp 100.000/Kg
  • Mendag RI Tandatangani MoU Impor Beras asal Kamboja 100.000 Ton
  • Ribuan Warga Banjar Jakarta Tumpah Hadiri Haul ke-206 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
  • Kontradiksi Penyediaan Air

Copyright mediaprofesi.com © 2010